TRUMBU – Siapa sangka, ikan yang dulu hanya menghuni sudut ruang tamu dan etalase toko akuarium kini menjelma menjadi simbol gaya hidup global bernilai jutaan dolar. Di tengah tren dunia yang semakin mengutamakan estetika, ketenangan, dan pengalaman visual, ikan hias tak lagi dipandang sekadar hewan peliharaan, melainkan bagian dari identitas gaya hidup modern.
Fenomena itu kini ikut mengangkat posisi Indonesia ke panggung perdagangan internasional. Negeri dengan salah satu biodiversitas ikan hias terkaya di dunia tersebut baru saja mencatatkan capaian bersejarah: ekspor ikan hias nasional menembus titik tertinggi dalam dua dekade terakhir.
Berdasarkan catatan International Trade Centre yang dikutip pengamat ekonomi kelautan dan perikanan Suhana, nilai ekspor ikan hias Indonesia sepanjang 2025 mencapai USD 42,47 juta, atau setara sekitar Rp679,52 miliar (jika kurs Rp16.000) Angka itu menjadi rekor tertinggi dalam 20 tahun terakhir dan menandai babak baru kebangkitan industri ikan hias nasional.
Capaian tersebut bukan sekadar kenaikan statistik tahunan. Lebih dari itu, ia menjadi penanda bahwa industri ikan hias Indonesia tengah bergerak dari sektor pinggiran menuju salah satu subsektor perikanan bernilai tambah tinggi.
Suhana yang merupakan bagian dari Anggota Dewan Ikan Hias Indonesia (DIHI) menilai lonjakan ekspor ini mencerminkan transformasi struktural industri ikan hias yang semakin matang, tangguh, dan mampu beradaptasi dengan dinamika pasar global. Dalam lima tahun terakhir, sektor tersebut menunjukkan pertumbuhan yang relatif stabil dengan volatilitas yang lebih terkendali dibanding era sebelumnya.
Jika dibandingkan dengan 2020 yang mencatat ekspor sekitar US$30,76 juta, maka terjadi kenaikan hampir 38 persen hanya dalam kurun lima tahun. Pertumbuhan itu menunjukkan bahwa pasar ikan hias Indonesia tidak sekadar pulih dari pandemi, tetapi benar-benar masuk fase ekspansi baru.
Dari Hobi Menjadi Gaya Hidup Global
Lonjakan ekspor itu tidak datang tanpa sebab. Di saat bersamaan, minat masyarakat dunia terhadap ikan hias juga melonjak tajam sepanjang 2025.
Data Google Trends menunjukkan pencarian global terkait ikan hias meningkat signifikan, terutama sejak pertengahan hingga akhir tahun. Puncaknya terjadi pada November 2025 ketika indeks pencarian mencapai angka tertinggi, menandakan lonjakan perhatian dunia terhadap industri ini.
Namun menariknya, dunia ternyata tidak lagi hanya mencari “ikan hias”. Kata kunci yang paling banyak dicari justru adalah “akuarium”, bukan “ornamental fish” atau ikan hias.
Temuan ini menunjukkan adanya perubahan besar dalam pola konsumsi global. Ikan hias kini tidak lagi sekadar dipelihara karena hobi, tetapi telah menjadi bagian dari desain interior, simbol ketenangan, elemen estetika ruang, hingga penunjang gaya hidup sehat.
Akuarium hari ini dipersepsikan sebagai bagian dari konsep wellness living atau gaya hidup menenangkan. Di tengah tekanan hidup urban dan derasnya arus digital, kehadiran akuarium dengan gerak ikan yang tenang dan suara air yang lembut dianggap mampu menjadi penawar stres modern.
Suhana menyebut ikan hias telah keluar dari ceruk pasar tradisionalnya dan masuk ke wilayah ekonomi kreatif global. Pergeseran ini menjadikan ikan hias sebagai komoditas gaya hidup, bukan lagi sekadar hewan koleksi.
Pasar Tidak Lagi Bicara Ikan, tapi Ekosistem
Perubahan perilaku pasar global juga terlihat dari pola pencarian masyarakat internasional. Selain akuarium, pencarian yang meningkat tajam justru terkait pasar ikan hias, budidaya ikan hias, peternakan ikan hias, dan pembiakan ikan hias.
Artinya, perhatian dunia kini tidak berhenti pada produk akhir semata. Pasar mulai tertarik memahami keseluruhan rantai industri, dari budidaya, perdagangan, hingga model bisnisnya.
Ini menandakan satu hal penting: ikan hias telah berevolusi menjadi ekosistem ekonomi baru. Orang tidak lagi hanya bertanya ikan apa yang indah, tetapi bagaimana industri ini bekerja dan bagaimana mereka bisa masuk ke dalamnya.
Bagi Indonesia, perubahan tren ini menjadi peluang strategis yang tidak boleh disia-siakan. Sebab dibanding komoditas perikanan konsumsi, ikan hias menawarkan nilai ekonomi tinggi dalam volume kecil.
Karakter ini menjadikan ikan hias sangat cocok dengan arah pembangunan ekonomi biru yang saat ini mulai dikedepankan pemerintah. Nilainya tinggi, jejak logistik rendah, dan potensi margin keuntungannya besar.
Pasar global kini bergerak menuju prinsip less volume, higher value, atau volume kecil dengan nilai lebih tinggi. Dalam konteks itu, ikan hias menjadi salah satu komoditas paling ideal.
Indonesia sendiri memiliki modal alam yang sangat besar. Dari ikan air tawar seperti arwana, koi, cupang, hingga ikan laut eksotis seperti banggai cardinalfish dan clownfish, Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas yang sulit ditandingi negara lain.
Selain itu, Indonesia juga dinilai mulai unggul dalam pengembangan captive breeding atau budidaya penangkaran. Sistem ini memungkinkan produksi ikan premium tanpa harus bergantung pada tangkapan alam liar.
Strategi Menjaga Momentum
Meski prospeknya cerah, tantangan tetap membayangi. Suhana menegaskan bahwa menjaga momentum pertumbuhan jauh lebih sulit daripada menciptakan lonjakan sesaat.
Karena itu, strategi penguatan industri harus diarahkan pada peningkatan kualitas, bukan hanya kuantitas produksi. Indonesia harus mulai membangun merek nasional ikan hias yang identik dengan mutu premium dan keberlanjutan.
Selain itu, diversifikasi pasar ekspor juga menjadi penting agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada negara tujuan tertentu. Penguatan penetrasi pasar Eropa, Timur Tengah, hingga Asia Timur harus mulai diprioritaskan.
Digitalisasi perdagangan juga disebut sebagai faktor penting berikutnya. Pemanfaatan platform dagang digital memungkinkan eksportir lokal menjangkau pembeli global secara lebih luas dan efisien.
Tak kalah penting adalah menjaga biodiversitas dan keberlanjutan habitat. Sebab tanpa tata kelola yang baik, ledakan permintaan justru bisa menjadi ancaman bagi populasi spesies liar di alam.
Lebih dari Sekadar Ikan
Hari ini, ikan hias bukan lagi sekadar komoditas pelengkap industri perikanan. Ia telah berubah menjadi wajah baru ekonomi laut modern—menggabungkan unsur estetika, gaya hidup, kesehatan mental, dan nilai ekonomi dalam satu ekosistem.
Dari akuarium minimalis di apartemen New York hingga kolam koi mewah di Tokyo, ikan hias kini hidup dalam denyut budaya populer global. Ia bukan lagi hanya soal memelihara ikan, tetapi tentang menghadirkan suasana, membangun identitas, dan menciptakan pengalaman hidup.
Kini di tengah gelombang besar itu, Indonesia sedang berdiri di titik penting sejarahnya. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah ikan hias menjanjikan, melainkan seberapa siap Indonesia mengubah momentum ini menjadi dominasi pasar dunia.

