TRUMBU — Proyek budidaya salmon berbasis darat di Jepang, Pure Salmon Japan, kembali memperoleh tambahan pendanaan sebesar 180 juta dolar AS atau setara sekitar Rp3,07 triliun. Dengan suntikan dana terbaru ini, total pembiayaan proyek tersebut kini mencapai sekitar 640 juta dolar AS, atau hampir Rp11 triliun.

Tambahan investasi tersebut akan digunakan untuk melanjutkan pembangunan fasilitas budidaya salmon berbasis darat yang berlokasi di Kota Tsu, Prefektur Mie, Jepang. Proyek ini merupakan salah satu investasi besar dalam sektor akuakultur modern di Asia.

Berdasarkan laporan IntraFish, pendanaan terbaru itu dipimpin oleh dana yang dikelola afiliasi Fortress Investment Group, dengan partisipasi dari Tor Investment Management. Suntikan modal ini diumumkan pada 1 April 2026.

Pure Salmon Japan sebelumnya dikenal dengan nama Soul of Japan dan berada di bawah pengelolaan 8F Asset Management. Proyek ini dikembangkan sebagai fasilitas budidaya salmon darat dengan teknologi recirculating aquaculture system (RAS) atau sistem akuakultur resirkulasi.

Teknologi tersebut memungkinkan budidaya ikan dilakukan di daratan dengan sistem sirkulasi air tertutup yang lebih terkontrol. Model ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi produksi sekaligus mengurangi ketergantungan pada budidaya laut terbuka.

Fasilitas yang dibangun di Jepang itu dirancang memiliki kapasitas produksi hingga 10.000 ton metrik per tahun. Saat beroperasi penuh nantinya, fasilitas tersebut akan memproduksi salmon Atlantik untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik Jepang.

Selain memproduksi salmon konsumsi, proyek ini juga dirancang untuk memanfaatkan produk samping salmon sebagai bahan baku untuk nutrisi hewan peliharaan. Strategi ini dinilai sebagai bagian dari upaya optimalisasi nilai tambah dalam rantai produksi akuakultur.

Dalam pernyataannya, perusahaan menyebut pendanaan terbaru tersebut menjadi tonggak penting bagi kelanjutan proyek. Menurut perusahaan, transaksi itu juga melengkapi skema pembiayaan preferred note yang sebelumnya telah disiapkan untuk mendukung pembangunan fasilitas tersebut.

“Transaksi ini melengkapi pembiayaan preferred note untuk proyek tersebut dan menandai tonggak penting dalam pengembangan berkelanjutan fasilitas budidaya salmon darat di Jepang, di mana pembangunan saat ini berlangsung dengan baik,” demikian pernyataan perusahaan.

Tambahan modal ini melengkapi pembiayaan besar yang sebelumnya telah diperoleh Pure Salmon Japan. Pada awal 2025, proyek ini dilaporkan telah mengamankan dana sekitar 460 juta dolar AS untuk mendukung penyelesaian konstruksi dan tahap awal operasional.

Jika digabungkan dengan investasi terbaru, maka total pendanaan yang telah dikantongi proyek ini mencapai sekitar 640 juta dolar AS. Dengan kurs saat ini, angka tersebut setara dengan kisaran Rp10,9 triliun hingga Rp11 triliun.

Nilai investasi itu menunjukkan besarnya kepercayaan investor terhadap prospek budidaya salmon darat, terutama di pasar Asia. Jepang sendiri merupakan salah satu negara dengan permintaan tinggi terhadap produk salmon, baik untuk konsumsi rumah tangga maupun industri makanan.

Di tengah meningkatnya konsumsi pangan laut premium, model budidaya berbasis darat semakin dilirik sebagai solusi untuk menjaga pasokan yang stabil. Selain itu, pendekatan ini juga dianggap dapat memberikan kontrol lebih besar terhadap kualitas air, kesehatan ikan, dan biosekuriti.

Sistem RAS selama ini dikenal sebagai salah satu inovasi penting dalam pengembangan akuakultur modern. Dengan teknologi ini, penggunaan air dapat diatur lebih efisien, limbah lebih mudah dikelola, dan risiko gangguan lingkungan eksternal bisa ditekan.

Karena itu, proyek seperti Pure Salmon Japan tidak hanya dilihat sebagai investasi di sektor pangan, tetapi juga sebagai bagian dari transformasi industri perikanan menuju model produksi yang lebih modern dan terkendali.

Di tingkat global, tren budidaya salmon darat memang terus tumbuh dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah investor besar mulai menempatkan modalnya pada proyek-proyek akuakultur berbasis teknologi tinggi, terutama untuk memenuhi permintaan protein laut yang terus meningkat.

Masuknya dana baru ke Pure Salmon Japan juga menunjukkan bahwa Jepang dipandang sebagai pasar strategis untuk pengembangan budidaya salmon lokal. Selama ini, kebutuhan salmon di Jepang masih sangat bergantung pada impor dari negara produsen utama seperti Norwegia dan Cile.

Dengan membangun fasilitas produksi di dalam negeri, Jepang berupaya memperkuat ketahanan pasokan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap rantai distribusi global yang rentan terganggu.

Apabila proyek ini berjalan sesuai rencana, Pure Salmon Japan berpotensi menjadi salah satu fasilitas budidaya salmon darat terbesar di Jepang. Kapasitas produksinya juga akan menempatkan proyek tersebut sebagai salah satu pemain penting dalam pengembangan akuakultur modern di kawasan Asia.

Besarnya nilai investasi yang telah masuk ke proyek ini menjadi penanda bahwa sektor budidaya ikan berbasis teknologi masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar. Bagi investor, akuakultur modern kini tidak lagi dipandang sebagai sektor tradisional, melainkan sebagai bagian dari industri pangan masa depan.

Dengan total pembiayaan yang kini hampir menembus Rp11 triliun, Pure Salmon Japan menegaskan posisinya sebagai salah satu proyek budidaya salmon darat paling ambisius di Asia saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *