TRUMBU — Harga ikan cakalang dunia melonjak tajam sepanjang triwulan pertama 2026. Kenaikan ini dinilai bukan sekadar fluktuasi musiman, melainkan sinyal kuat adanya tekanan struktural dalam sistem perikanan global.

Pengamat ekonomi perikanan dan kelautan, Suhana, menyebut lonjakan harga tersebut mencerminkan kondisi pasar yang sedang tidak normal. “Ini bukan kenaikan biasa. Ada tekanan struktural dari sisi pasokan yang cukup serius,” ujar Suhana dalam kajiannya.

Data menunjukkan harga bahan baku cakalang di Bangkok—yang menjadi salah satu acuan utama pasar global—melonjak dari sekitar 1.500 dolar AS per ton pada Januari menjadi 2.000 dolar AS per ton pada Maret 2026. Artinya, terjadi kenaikan lebih dari 33 persen hanya dalam waktu tiga bulan.

Rata-rata harga sepanjang triwulan pertama 2026 tercatat sekitar 1.693 dolar AS per ton, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini mempertegas adanya tekanan kuat pada sisi pasokan global.

Menurut Suhana, fenomena tersebut dapat dikategorikan sebagai shock dari sisi pasokan (supply shock). Dalam kondisi ini, penurunan produksi tidak diimbangi oleh penurunan permintaan, sehingga harga terdorong naik secara signifikan.

Ia menjelaskan, permintaan global terhadap tuna, termasuk cakalang, cenderung stabil. Oleh karena itu, setiap gangguan kecil pada pasokan akan langsung berdampak besar terhadap harga di pasar internasional.

Salah satu faktor utama penyebab kenaikan harga adalah penurunan hasil tangkapan di kawasan Western and Central Pacific Ocean (WCPO), yang selama ini menjadi pusat produksi tuna dunia. Penurunan ini membuat pasokan ikan di pasar global semakin terbatas.

Selain itu, kebijakan pengelolaan perikanan global seperti penutupan penggunaan Fish Aggregating Devices (FAD closure) turut menekan produksi. Kebijakan ini memang ditujukan untuk menjaga keberlanjutan stok ikan, namun dalam jangka pendek berdampak pada menurunnya volume tangkapan.

Faktor lain yang memperburuk situasi adalah kenaikan biaya operasional, terutama bahan bakar. Biaya melaut yang semakin tinggi membuat sebagian armada perikanan mengurangi intensitas penangkapan.

“Ketika biaya naik dan hasil tangkapan turun, tekanan terhadap pasokan menjadi berlipat. Ini yang mendorong harga melonjak cepat,” kata Suhana.

Menariknya, kenaikan harga tetap terjadi meskipun permintaan sempat melambat akibat faktor musiman seperti perayaan Tahun Baru Imlek. Hal ini semakin menguatkan bahwa persoalan utama berada pada sisi pasokan, bukan permintaan. ([Literasi Ekonomi Kelautan][1])

Bagi Indonesia, situasi ini menghadirkan dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, kenaikan harga global membuka peluang peningkatan pendapatan bagi nelayan.

Namun, Suhana mengingatkan bahwa manfaat tersebut tidak selalu dirasakan secara merata. Nelayan kecil kerap tidak menikmati harga tinggi karena panjangnya rantai distribusi dan posisi tawar yang lemah.

“Nelayan kecil sering kali hanya menerima sebagian kecil dari harga ekspor. Ini persoalan klasik dalam rantai nilai perikanan,” ujarnya.

Di sisi lain, industri pengolahan justru menghadapi tekanan berat. Kenaikan harga bahan baku membuat biaya produksi meningkat, sementara harga produk olahan tidak selalu bisa ikut naik.

Kondisi ini dikenal sebagai price squeeze, yaitu ketika margin keuntungan industri tertekan akibat kenaikan biaya input yang tidak diimbangi kenaikan harga jual.

Suhana menilai kondisi 2026 lebih kompleks dibandingkan lonjakan harga pada 2012–2013. Saat itu, kenaikan harga lebih dipengaruhi faktor alami seperti cuaca dan siklus stok ikan.

“Sekarang faktor yang bermain jauh lebih kompleks—ada perubahan iklim, kebijakan global, hingga tekanan biaya energi,” kata dia.

Perubahan iklim, lanjutnya, mulai memengaruhi distribusi ikan di laut. Pergeseran suhu dan kondisi oseanografi menyebabkan pola migrasi ikan berubah, sehingga memengaruhi produktivitas penangkapan.

Di tengah kondisi tersebut, Suhana mengingatkan adanya risiko besar terhadap keberlanjutan sumber daya ikan. Harga yang tinggi dapat mendorong peningkatan upaya penangkapan secara berlebihan.

“Ini yang berbahaya. Harga tinggi bisa memicu overfishing jika tidak dikendalikan dengan kebijakan yang ketat,” ujarnya.

Dalam teori ekonomi sumber daya, kondisi tersebut memang lazim terjadi. Ketika harga meningkat, pelaku usaha cenderung meningkatkan produksi untuk memaksimalkan keuntungan, yang pada akhirnya dapat mengancam stok ikan.

Karena itu, ia menekankan pentingnya penguatan tata kelola perikanan. Pemerintah perlu memastikan bahwa peningkatan produksi tetap berada dalam batas keberlanjutan.

Selain itu, penguatan rantai pasok domestik juga dinilai krusial. Dengan sistem distribusi yang lebih efisien, nelayan diharapkan dapat memperoleh harga yang lebih adil.

Suhana juga mendorong pengembangan produk bernilai tambah agar Indonesia tidak hanya bergantung pada ekspor bahan mentah. Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan daya saing industri perikanan nasional.

Tak kalah penting, transparansi informasi harga perlu diperkuat. Akses data pasar secara real time akan membantu pelaku usaha mengambil keputusan yang lebih tepat.

“Indonesia tidak boleh hanya menjadi price taker. Kita harus mulai memperkuat posisi dalam rantai nilai global,” kata Suhana.

Lonjakan harga cakalang pada awal 2026 pada akhirnya menjadi cerminan dinamika kompleks pasar perikanan global. Keterbatasan pasokan, tekanan biaya, serta kebijakan pengelolaan yang ketat saling berkelindan menciptakan ketidakstabilan pasar.

Bagi Indonesia, momentum ini menjadi ujian sekaligus peluang. Tanpa strategi yang tepat, keuntungan jangka pendek bisa berubah menjadi risiko jangka panjang bagi keberlanjutan sumber daya laut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *