Jumat (10/04), kunjungan lapangan yang dilakukan Tim Dewan Ikan Hias Indonesia (DIHI) yang dipimpin oleh Dr. Suseno ke Coral Triangle Center (CTC) di Bali bukan sekadar agenda seremonial.
“Di tempat ini, tim DIHI menyaksikan langsung bagaimana konservasi laut diterjemahkan menjadi pengalaman belajar yang hidup, membumi, dan penuh inovasi” ungkap Suseno
Berbeda dari bayangan banyak orang tentang lembaga konservasi yang kaku dan teknokratis, CTC justru menghadirkan pendekatan yang komunikatif—menggabungkan edukasi, visualisasi, hingga budaya dalam satu ruang pembelajaran.

Belajar Laut dari “Perahu Kehidupan”
Salah satu instalasi yang menarik perhatian adalah media edukasi berbentuk perahu, yang menggambarkan keterkaitan ekosistem laut—dari mangrove, padang lamun, hingga terumbu karang. Visual ini bukan sekadar dekorasi, tetapi narasi ilmiah yang disederhanakan.
Melalui pendekatan ini, pengunjung diajak memahami bahwa laut adalah sistem yang saling terhubung, kerusakan di satu titik berdampak luas, dan manusia adalah bagian dari ekosistem, bukan di luar sistem
“model ini relevan dengan pendekatan pembangunan pesisir di Indonesia yang sering kali masih terfragmentasi” ungkap Suhana.

Wayang Samudera: Ketika Sains Menjadi Cerita
Kunjungan ini juga menegaskan kekuatan program Wayang Samudera, inovasi edukasi yang sebelumnya telah dikembangkan CTC. Program ini mengubah biota laut menjadi karakter wayang yang hidup—membawa pesan konservasi melalui cerita.
Pendekatan ini terasa semakin kontekstual ketika dilihat langsung di lapangan. Bukan hanya konsep, tetapi telah menjadi media edukasi nyata yang menyentuh emosi masyarakat, mudah dipahami lintas usia, dan mengakar pada budaya lokal
“melalui media wayang ini, CTC tidak hanya “mengajarkan laut”, tetapi juga menceritakan laut” ungkap Rili Djohani.
Di salah satu sudut pusat edukasi, terpampang pesan kuat: Coral Triangle adalah episentrum keanekaragaman hayati laut dunia. Lebih dari 3.000 spesies ikan dan ratusan spesies karang hidup di kawasan ini.
Namun di balik kekayaan tersebut, ancaman terus membayangi perubahan iklim, overfishing, dan degradasi habitat pesisir
Kunjungan ini memperlihatkan bahwa tantangan tersebut tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan sektoral semata.
Pengalaman langsung di CTC memperkuat satu hal, yaitu konservasi laut membutuhkan pendekatan integratif.
Ada beberapa pelajaran penting yang bisa ditarik, yaitu pertama edukasi adalah kunci utama, bukan pelengkap; kedua visualisasi dan storytelling meningkatkan efektivitas pesan; dan ketiga, budaya lokal bisa menjadi alat transformasi sosial. Namun di sisi lain, tantangan tetap ada, yaitu bagaimana mereplikasi model ini ke wilayah pesisir lain?; Bagaimana mengintegrasikannya ke dalam kebijakan nasional?; dan Bagaimana memastikan keberlanjutan pendanaan?
kunjungan ini membuka perspektif baru—bahwa konservasi, edukasi, dan ekonomi bisa berjalan beriringan.
Model seperti yang dikembangkan Coral Triangle Center sangat relevan untuk pengembangan minawisata, eduwisata pesisir berbasis masyarakat, dan penguatan ekonomi biru yang inklusif. Jika direplikasi dengan adaptasi lokal, pendekatan ini berpotensi menjadi model nasional dalam mengelola kawasan pesisir Indonesia.
Kunjungan ini bukan akhir, tetapi awal dari refleksi yang lebih besar. Bahwa menjaga laut tidak cukup dengan regulasi dan teknologi, tetapi juga membutuhkan cerita, pengalaman, dan keterlibatan manusia. Dari Bali, pesan itu terasa jelas, yaitu laut bukan hanya sumber daya—ia adalah ruang hidup yang harus dipahami, dijaga, dan diwariskan.
Dan mungkin, seperti yang terlihat di CTC hari ini, perubahan besar bisa dimulai dari cara kita menceritakan laut.
