Ilustrasi Kehancuran Ekologis Pantai Bangka Belitung
Oleh : Achmad Fathullah
Founder Dedikasi Kita Foundation
Dari balik layar pemantau, saya mengendalikan drone di atas pesisir Kepulauan Bangka Belitung. Jika Anda berharap melihat surga tropis dengan gradasi laut biru yang eksotis, bersiaplah untuk kecewa. Alih-alih terumbu karang yang menawan, lensa kamera saya justru menangkap sebuah “karya seni” antroposentrisme yang brutal. Armada raksasa Ponton Isap Produksi (PIP) yang bak monster baja, sibuk mengaduk-aduk dasar laut kita menjadi kubangan lumpur.
Di perairan Tembelok dan Keranggan, saya mendengar langsung jeritan para nelayan yang ruang tangkapnya diinvasi oleh mesin tambang ilegal yang beroperasi tanpa henti dari pagi hingga malam. Laporan mereka seolah menguap di lorong birokrasi, dibalas dengan ketidakpastian. Pukulan telak lainnya baru saja terjadi di Pantai Penyusuk pada 20 April 2026. Lensa berita merekam bagaimana Satgas TNI AL harus menggagalkan penyelundupan 81 karung bijih timah dengan modus operandi baru yang merugikan negara Dimana para pelaku merampas hasil tambang langsung dari PIP di tengah laut untuk segera diselundupkan keluar NKRI. Sementara itu, di Batu Beriga, saya melihat masyarakat adat yang harus berjuang sendirian dengan keras kepala menolak tambang laut demi merawat tradisi luhur taber laot dan menjaga keseimbangan ekosistem laut mereka.
Saya kemudian bertanya pada diri sendiri, mengapa delusi ekstraktif yang mengorbankan laut ini terus dipelihara dengan dalih “urat nadi ekonomi”?
Untuk membantah delusi tersebut, saya menelusuri data statistik resmi. Saya tertegun saat membedah Laporan Perekonomian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Februari 2026. Data BPS menunjukkan bahwa narasi tambang sebagai tumpuan hidup adalah sebuah kekeliruan struktural. Pada Triwulan IV 2025, sektor Pertambangan dan Penggalian ternyata hanya menyumbang 8,27% terhadap struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) kita. Dari sisi serapan tenaga kerja, sektor ini hanya mempekerjakan 104.570 orang.
Mari bandingkan dengan sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang kerap dipinggirkan. Sektor agromaritim ini justru menyumbang porsi PDRB raksasa sebesar 20,45% dan secara nyata menghidupi lebih dari 212.770 tenaga kerja atau sekitar 26,90% dari total pekerja di Babel. Bahkan, saya menemukan fakta bahwa nilai perikanan tangkap laut Babel mencetak angka fantastis yang mencapai Rp 8,09 Triliun pada 2024 dengan volume produksi 236.038 ton. Lantas, rasionalitas ekonomi macam apa yang membiarkan sektor bernilai triliunan rupiah yang menghidupi ratusan ribu warga dihancurkan secara sistematis demi menyuapi porsi sektor tambang yang jauh lebih kecil?
Terjebak dalam “Kutukan Sumber Daya Alam”
Dalam kacamata akademis, Bangka Belitung saat ini sedang mengidap fenomena Natural Resource Curse (Kutukan Sumber Daya Alam). Literatur pembangunan membuktikan bahwa daerah yang kekayaan alamnya berlimpah, terutama komoditas ekstraktif yang tak terbarukan, justru sering kali terjebak dalam jebakan pertumbuhan yang lambat dan gagal menyejahterakan masyarakatnya secara berkelanjutan. Hipotesis ini diaminkan oleh kajian empiris tentang Regional Resource Curse Index (RRCI), di mana provinsi-provinsi di Indonesia yang bertumpu pada pertambangan justru memiliki tingkat keberlanjutan yang sangat rendah.
Kita terlalu lama terlena menggali perut bumi hingga lupa membangun kapasitas manusia dan inovasi alternatif. Pola pikir eksploitatif ini harus segera kita bongkar dan ganti dengan paradigma Blue Economy. Berbeda dengan model konvensional, saya meyakini bahwa Blue Economy akan menciptakan tatanan di mana laut justru memberikan kontribusi ekonomi paling maksimal justru ketika ekosistemnya dilindungi, bukan dikuras habis.
Orkestrasi Ekosistem Digital: Mengubah Tragedi Menjadi Aksi
Blue Economy yang memadukan kesejahteraan nelayan dan kelestarian ekosistem tidak akan tercipta secara instan hanya dengan menolak tambang. Dibutuhkan sebuah tatanan intervensi teknologi. Pemuda Bangka Belitung tidak boleh lagi sekadar menjadi penonton, kita harus mengambil peran strategis sebagai Ecosystem Orchestrator.
Berdasarkan teori transformasi digital ekosistem, solusi yang ditawarkan bukanlah program amal yang usang, melainkan sebuah kerangka kerja multi-tahap yang secara tajam menjawab krisis spesifik di setiap pesisir Bangka Belitung seperti:
Laut Bangka Belitung bukanlah sekadar angka PDRB atau wilayah tak bertuan yang siap dirobek moncong ekskavator. Pemuda Bangka Belitung harus mengambil alih kendali nasib. Inilah saatnya menawarkan nilai ekonomi cerdas yang bertumpu pada pelestarian, membongkar delusi ekstraktif, dan merangkai kembali masa depan Bangka Belitung yang sempat dirampas.
TRUMBU - Himpunan Alumni (HA) IPB University melakukan audiensi dengan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung…
TRUMBU - Tak seperti hari-hari biasanya, jalan kecil menuju pesisir selatan Kebumen mendadak ramai. Mobil…
TRUMBU - Angin laut berembus pelan di pesisir Sulawesi Selatan ketika para petani mulai menarik…
TRUMBU — Di industri akuakultur modern, pakan adalah segalanya. Ia menentukan kecepatan pertumbuhan ikan, kualitas…
TRUMBU — Di balik lalu lintas logistik yang tampak rutin itu, ada satu tahapan yang…
TRUMBU — Di sebuah gang sempit di kawasan Parung, Bogor, suara gelembung aerator terdengar nyaris…