TRUMBU – Di balik hamparan terumbu karang tropis Indonesia, hidup satu biota laut yang kerap luput dari perhatian meski perannya sangat besar bagi ekosistem. Namanya kima, kerang raksasa berwarna cerah yang selama ini lebih sering dipandang sebagai penghias dasar laut ketimbang penjaga kehidupan bawah air.

Padahal, di balik tubuh besarnya yang tampak diam, kima merupakan salah satu fondasi penting bagi keseimbangan ekosistem terumbu karang. Kehadirannya bukan hanya mempercantik perairan, tetapi juga menopang rantai kehidupan di laut tropis yang rentan terhadap perubahan lingkungan.

Secara ilmiah, kima dikenal dalam genus Tridacna dan termasuk biota laut yang memiliki hubungan biologis unik dengan alga mikroskopis bernama zooxanthellae atau alga simbion. Dalam hubungan tersebut, kima menyediakan tempat hidup dan nutrisi bagi alga, sementara alga menghasilkan energi melalui proses fotosintesis yang membantu pertumbuhan kima.

Hubungan simbiosis ini bahkan telah terbentuk sejak fase larva dan menjadi faktor utama dalam mendukung produktivitas serta perkembangan tubuh kima. Penelitian Yaqin dan tim pada 2020 menunjukkan bahwa mekanisme tersebut menjadikan kima layaknya “pabrik energi alami” yang bekerja di dasar laut.

Tidak berhenti di situ, berbagai penelitian terbaru menempatkan kima sebagai spesies kunci dalam ekosistem laut tropis. Studi Putra, Soelistyowati, dan Maulana pada 2024 menyebut keberadaan kima memiliki pengaruh besar terhadap struktur komunitas dan produktivitas terumbu karang, termasuk dalam mendukung program penebaran kembali populasi di alam.

Penjaga Keseimbangan

Pengamat Perikanan dan Keluatan, Suhana mengatakan, peran ekologis kima di laut jauh lebih kompleks daripada sekadar organisme penghias karang. Sebagai penyaring alami atau filter feeder, kima membantu membersihkan air laut dengan menyaring partikel-partikel kecil yang melayang di perairan.

Proses tersebut membuat kualitas air di sekitar terumbu karang tetap jernih dan sehat. Air yang jernih menjadi elemen penting bagi proses fotosintesis karang serta organisme laut lain yang bergantung pada cahaya matahari.

Selain menjaga kejernihan air, tubuh dan cangkang kima juga berfungsi sebagai rumah bagi berbagai organisme kecil. Banyak biota laut memanfaatkan permukaan cangkangnya sebagai tempat berlindung maupun habitat hidup.

Kima juga berperan sebagai penyedia nutrisi alami di ekosistem laut. Nutrien tersebut berasal dari jaringan tubuh, feses, hingga gamet yang dikeluarkannya selama proses reproduksi.

Penelitian menunjukkan bahwa kawasan terumbu karang yang memiliki populasi kima cenderung memiliki tingkat keanekaragaman hayati lebih tinggi dibanding wilayah tanpa kima. Bahkan pada area yang telah mengalami degradasi, keberadaan kima tetap mampu mendukung pemulihan ekosistem secara perlahan.

“Meski memiliki peran vital, kima termasuk biota yang sangat sensitif terhadap perubahan kualitas lingkungan. Sedikit gangguan pada kondisi perairan dapat langsung berdampak terhadap kesehatannya,” ujar Suhana.

Riset Yaqin dan kolega pada 2020 menemukan bahwa paparan logam berat di laut dapat menyebabkan hilangnya zooxanthellae dari tubuh kima. Fenomena tersebut serupa dengan pemutihan pada karang dan berdampak langsung terhadap penurunan produktivitas hingga pertumbuhan kima.

Kondisi itu menegaskan bahwa kima bukan hanya bagian dari ekosistem, tetapi juga indikator biologis terhadap kesehatan lingkungan laut. Ketika populasi kima menurun, itu menjadi sinyal bahwa ekosistem perairan sedang mengalami tekanan serius.

Dilindungi Dunia, tetapi Tetap Terancam

Suhana juga menjelaskan, secara global, status perlindungan kima telah menjadi perhatian dunia internasional. Seluruh spesies kima saat ini masuk dalam daftar Apendiks II Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Fauna dan Flora Liar Terancam Punah (CITES).

Status tersebut berarti perdagangan dan pemanfaatan kima masih diperbolehkan, tetapi harus diawasi secara ketat agar tidak mengancam populasi di alam. Penetapan itu dilakukan karena populasi kima di berbagai negara terus mengalami tekanan akibat eksploitasi berlebih, perdagangan, dan kerusakan habitat.

Sejak dekade 1980-an, komunitas internasional telah memperingatkan bahwa tanpa pengawasan ketat, kima dapat mengalami penurunan populasi hingga menuju kepunahan. Namun persoalan terbesar bukan terletak pada regulasi, melainkan lemahnya implementasi di lapangan.

Perdagangan ilegal masih marak terjadi di berbagai wilayah pesisir. Di sisi lain, pengawasan terhadap kawasan habitat alami juga belum sepenuhnya berjalan optimal.

Harapan itu Ada di Bali

Di tengah ancaman tersebut, lanjut Suhana, Bali muncul sebagai salah satu titik terang konservasi kima di Indonesia. Harapan itu datang dari pengembangan budidaya dan konservasi yang dilakukan PT Dinar Darum Lestari.

Perusahaan yang berbasis di Bali ini telah lama dikenal sebagai salah satu pelaku utama perdagangan dan budidaya biota laut hias dengan pendekatan keberlanjutan. Dalam praktiknya, PT Dinar tidak hanya berorientasi pada bisnis, tetapi juga mengembangkan model konservasi berbasis produksi.

Melalui kebun induk kima, perusahaan tersebut membangun sistem pembenihan secara terkontrol untuk menghasilkan benih kima tanpa mengambil dari alam liar. Model ini sekaligus menjadi upaya mengurangi tekanan terhadap populasi alami di habitatnya.

Teknologi yang digunakan bahkan terus berkembang. Berdasarkan penelitian berbasis fasilitas mereka, metode induksi hormon mampu meningkatkan keberhasilan pemijahan kima hingga lebih dari 90 persen.

Pencapaian itu menunjukkan bahwa Indonesia telah memiliki kemampuan teknis yang cukup maju dalam budidaya kima. PT Dinar juga disebut berhasil mengembangkan fasilitas penetasan kima dengan indukan yang berasal dari kebun induk sendiri.

Tidak hanya berhenti di budidaya, perusahaan tersebut juga mengembangkan inovasi taman kima di sejumlah titik perairan Bali. Program itu memadukan konsep konservasi, edukasi publik, dan wisata bahari dalam satu pendekatan.

“Model ini penting karena menjembatani kepentingan ekologis dan ekonomi secara bersamaan” ungkap Suseno, Ketua Dewan Ikan Hias Indonesia.

Menurut Suhana, pengalaman di Bali menunjukkan bahwa konservasi kima tidak bisa dilakukan secara parsial. Upaya perlindungan harus dibangun melalui pendekatan menyeluruh yang menggabungkan teknologi, pengawasan, dan keterlibatan masyarakat.

Perlindungan habitat terumbu karang menjadi syarat utama agar populasi kima tetap bertahan. Di sisi lain, penguatan pengawasan perdagangan dan pengembangan budidaya berbasis sains juga harus berjalan beriringan.

Kima bukan sekadar kerang raksasa penghuni laut tropis. Ia adalah simbol dari ekosistem laut yang indah, kompleks, tetapi sangat rapuh.

Status perlindungan global yang melekat padanya menjadi pengingat bahwa ancaman kepunahan masih nyata. Namun berbagai inovasi dari Bali membuktikan bahwa harapan untuk menyelamatkan spesies ini tetap terbuka.

Pada akhirnya, keberhasilan konservasi bukan hanya diukur dari berapa banyak kima yang berhasil dibudidayakan atau dilepasliarkan. Lebih dari itu, keberhasilan sejati terletak pada kemampuan manusia menjaga laut tetap sehat sebagai satu kesatuan ekosistem.

“Karena ketika kima hilang, yang lenyap bukan hanya satu spesies. Yang ikut terancam adalah keseimbangan kehidupan laut itu sendiri,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *