TRUMBU — Di industri akuakultur modern, pakan adalah segalanya. Ia menentukan kecepatan pertumbuhan ikan, kualitas panen, hingga keuntungan pembudi daya.
Tetapi sejak awal 2026, para pelaku industri mulai menghadapi kecemasan baru: harga bahan baku pakan terus bergerak naik. Pemicunya datang ribuan kilometer dari Indonesia, yakni pantai Pasifik Amerika Selatan, tepatnya Peru, negara produsen utama fishmeal dan fish oil dunia.
Laporan media industri internasional SeafoodSource pada Mei 2026 menunjukkan produksi fishmeal global pada Maret turun sekitar 38 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Secara kumulatif, produksi kuartal pertama 2026 turun sekitar 28 persen. Sementara produksi fish oil menyusut sekitar 12 persen.
Bagi industri akuakultur dunia, angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah alarm besar tentang rapuhnya rantai pasok pakan global. Peru selama ini menjadi salah satu jantung industri fishmeal dunia.
Negara tersebut memasok sebagian besar kebutuhan tepung ikan global melalui penangkapan anchovy atau ikan teri Peru di Samudera Pasifik. Anchovy bukan ikan konsumsi populer seperti tuna atau salmon.
Tetapi di dunia industri akuakultur, ikan kecil itu memiliki nilai strategis luar biasa. Ia diolah menjadi fishmeal dan fish oil, dua komponen utama pakan budidaya modern.
Masalahnya, pada 2026 pemerintah Peru memutuskan memangkas total allowable catch (TAC) anchovy menjadi sekitar 1,9 juta ton, jauh lebih rendah dibanding kuota tahun sebelumnya yang mendekati 3 juta ton. Bahkan pemerintah sempat menghentikan sementara aktivitas penangkapan untuk melindungi populasi ikan yang sedang memijah.
Keputusan tersebut memperlihatkan satu kenyataan baru dalam industri seafood global: negara-negara produsen mulai lebih berhati-hati terhadap eksploitasi sumber daya laut.
Selama puluhan tahun, industri akuakultur global berkembang dengan asumsi bahwa pasokan bahan baku laut akan selalu tersedia. Fishmeal menjadi fondasi utama pakan salmon di Norwegia, udang di Asia, hingga ikan laut premium di berbagai negara.
Tetapi perubahan iklim, tekanan overfishing, dan degradasi ekosistem mulai mengubah peta industri. Pemerintah Peru tampaknya menyadari bahwa eksploitasi anchovy tidak bisa terus dilakukan tanpa batas.
Perubahan suhu laut dan anomali oseanografi meningkatkan risiko terganggunya reproduksi ikan pelagis kecil tersebut. Jika stok runtuh, dampaknya bukan hanya terhadap Peru, tetapi juga industri akuakultur dunia.

Dalam perspektif ekonomi politik, keputusan Peru memperlihatkan semakin kuatnya pendekatan precautionary approachdalam pengelolaan perikanan global. Negara mulai menempatkan keberlanjutan stok ikan di atas kepentingan produksi jangka pendek.
Langkah ini penting secara ekologis, tetapi sekaligus memunculkan tekanan besar terhadap industri pakan dunia.
Fishmeal dan fish oil hingga kini masih dianggap sumber protein dan omega-3 paling efisien bagi budidaya ikan karnivora seperti salmon dan udang. Ketika pasokan turun, harga melonjak.
Ketika harga naik, biaya produksi budidaya ikut terdorong naik. Karena di dunia akuakultur modern, biaya pakan dapat mencapai lebih dari 60 persen total biaya produksi.
Pakar perikanan dan kelautan, Suhana mengatakan, bagi Indonesia, krisis fishmeal global menghadirkan dua wajah sekaligus: ancaman dan peluang.
Ancaman pertama jelas berkaitan dengan kenaikan biaya produksi budidaya nasional. Indonesia masih mengimpor sebagian bahan baku pakan, terutama untuk sektor budidaya intensif seperti udang vaname dan ikan laut premium.
Ketika harga fishmeal dunia naik, industri pakan nasional ikut terdorong menaikkan harga produk. Dampaknya langsung dirasakan pembudi daya kecil yang selama ini sudah menghadapi tekanan harga energi, logistik, penyakit, dan fluktuasi pasar ekspor.
“Di banyak kawasan tambak, pakan adalah komponen biaya terbesar. Sedikit saja kenaikan harga dapat menggerus margin usaha secara signifikan,” ujar Suhana.
Situasi ini menjadi semakin berat karena sektor akuakultur Indonesia sedang berada dalam fase ekspansi. Pemerintah menempatkan budidaya sebagai tulang punggung ekonomi biru nasional. Udang, nila, lobster, dan rumput laut diproyeksikan menjadi motor pertumbuhan ekspor seafood masa depan.
Namun ambisi besar itu sangat bergantung pada ketersediaan pakan yang murah dan stabil. Ketika bahan baku utama pakan berguncang di pasar global, ketahanan industri budidaya nasional ikut dipertaruhkan.
“Krisis fishmeal juga membuka persoalan lain yang lebih besar, yakni tingginya konsentrasi rantai pasok bahan baku pakan dunia,” ujarnya.
Selama ini, sebagian besar pasokan fishmeal global bergantung pada beberapa negara produsen utama seperti Peru dan Chile. Ketika salah satu negara mengalami penurunan produksi, pasar internasional langsung terguncang.
“Fenomena ini menunjukkan bahwa seafood modern ternyata sangat rentan terhadap gangguan geopolitik dan ekologis,” imbuh Suhana.
Di era globalisasi, industri akuakultur dunia memang terlihat sangat maju: teknologi sensor otomatis, kecerdasan buatan, kapal modern, hingga budidaya berbasis digital. Tetapi di balik semua itu, fondasinya masih bertumpu pada sumber daya laut alami yang terbatas.
Namun di balik tekanan global tersebut, Indonesia sebenarnya memiliki peluang strategis besar. Karena itu, krisis fishmeal dapat menjadi momentum untuk mempercepat transformasi industri pakan nasional menuju model yang lebih berkelanjutan dan berbasis sumber daya domestik.
“Indonesia memiliki potensi besar memanfaatkan limbah pengolahan ikan, hasil samping industri seafood, hingga sumber protein alternatif seperti maggot, mikroalga, dan single-cell protein,” jelas Suhana.
Selama ini, kepala ikan, tulang, kulit, dan sisa pengolahan seafood di banyak daerah masih belum dimanfaatkan optimal. Sebagian bahkan berakhir menjadi limbah.
Padahal di negara-negara maju, konsep ekonomi sirkular mulai diterapkan secara agresif. Industri seafood diarahkan menjadi sistem rendah limbah, di mana hampir seluruh bagian ikan memiliki nilai ekonomi.
Di Norwegia, limbah salmon diolah menjadi minyak ikan dan protein tambahan. Di Eropa, industri serangga berkembang pesat sebagai substitusi fishmeal. Sementara berbagai perusahaan global mulai mengembangkan protein berbasis fermentasi mikroba dan alga laut.
Transformasi ini menunjukkan bahwa masa depan akuakultur tidak lagi hanya bergantung pada ikan tangkapan laut sebagai bahan baku pakan.
Negara yang mampu mengembangkan sumber protein alternatif akan memiliki posisi strategis dalam industri seafood global masa depan.
Indonesia sebenarnya memiliki semua syarat untuk masuk dalam arus perubahan tersebut. Negeri ini memiliki sumber daya perikanan besar, garis pantai panjang, keanekaragaman hayati laut tinggi, serta industri pengolahan seafood yang terus berkembang.
“Tetapi peluang itu hanya bisa diwujudkan jika ada investasi serius pada riset, teknologi, dan industrialisasi pakan nasional,” ujarnya.
Selama ini, pengembangan bahan baku alternatif masih berjalan sporadis dan terbatas pada skala kecil. Padahal kebutuhan nasional sangat besar.
Industri akuakultur Indonesia akan sulit bersaing secara global jika terus bergantung pada bahan baku impor yang rentan terhadap fluktuasi internasional.
“Karena itu, penguatan industri substitusi fishmeal seharusnya mulai ditempatkan sebagai agenda strategis nasional,” tuturnya.
Krisis fishmeal global juga, lanjut Suhana, membawa pesan ekologis yang penting. Karena ketika eksploitasi dilakukan berlebihan untuk memenuhi kebutuhan industri pakan global, keseimbangan ekosistem laut ikut terancam.
Penelitian Pikitch dan sejumlah ilmuwan kelautan menunjukkan bahwa eksploitasi ikan forage secara berlebihan dapat mengganggu stabilitas ekosistem laut secara luas.
Karena itu, masa depan akuakultur dunia tidak bisa lagi bertumpu sepenuhnya pada eksploitasi ikan kecil dari laut terbuka.
Industri seafood global sedang bergerak menuju paradigma baru: produksi pangan laut yang lebih efisien, lebih sirkular, dan lebih rendah tekanan ekologis.
Pada akhirnya, penurunan produksi fishmeal global bukan sekadar isu industri pakan. Ia adalah refleksi perubahan besar dalam tata kelola pangan laut dunia.
Negara-negara mulai menyadari bahwa laut memiliki batas. Industri mulai mencari protein alternatif. Pasar global semakin menuntut keberlanjutan. Dan teknologi mulai mengubah fondasi industri akuakultur modern.
“Dalam situasi seperti itu, Indonesia menghadapi pilihan penting Tetap menjadi pasar bahan baku impor yang rentan terhadap gejolak global, atau membangun industri pakan nasional berbasis inovasi dan ekonomi sirkular,” paparnya.
Jika mampu memanfaatkan momentum ini, Indonesia bukan hanya dapat mengurangi ketergantungan terhadap fishmeal impor, tetapi juga berpeluang menjadi salah satu pusat inovasi akuakultur tropis dunia.
“Namun jika gagal beradaptasi, industri budidaya nasional akan terus bergerak mengikuti gelombang pasar global, tanpa benar-benar memiliki kendali atas fondasi utamanya sendiri,” pungkas Suhana.
