TRUMBU — Di sebuah gang sempit di kawasan Parung, Bogor, suara gelembung aerator terdengar nyaris tanpa henti. Deretan akuarium memantulkan cahaya putih kebiruan.
Di dalamnya, ikan-ikan kecil berenang perlahan: discus berwarna merah menyala, guppy ekor kipas, cupang halfmoon, hingga arwana muda yang dijaga seperti aset berharga. Di tempat-tempat seperti inilah industri ikan hias Indonesia tumbuh dalam diam, tetapi bernilai global.
Selama bertahun-tahun, ikan hias dipandang hanya sebagai hobi pinggiran. Ia hidup di toko akuarium kecil, komunitas pecinta ikan, atau sudut rumah para kolektor.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, pasar ikan hias dunia berubah drastis. Ikan hias tidak lagi sekadar pelengkap estetika, melainkan telah menjelma menjadi bagian dari gaya hidup urban global, ekonomi digital, bahkan industri wellness bernilai miliaran dolar.
Perubahan itu kini terlihat jelas dalam berbagai laporan media internasional dan data perdagangan global sepanjang 2025–2026. Dunia ornamental fish sedang bergerak menuju industri yang jauh lebih modern, berbasis teknologi, dan sarat persaingan kualitas.
Bagi Indonesia, salah satu negara dengan biodiversitas ikan tropis terbesar di dunia, yakni perubahan ini menghadirkan peluang besar sekaligus ancaman serius.
Pasar yang Dulu Kecil, Kini Mendunia
Laporan berbagai media industri seperti SeafoodSource, IntraFish, dan The Fish Site menunjukkan bahwa pasar ikan hias global mengalami transformasi besar pascapandemi.
Ketika dunia mengalami pembatasan sosial, masyarakat urban global mulai mencari aktivitas domestik yang memberi ketenangan psikologis. Akuarium rumah menjadi salah satu jawabannya.
Fenomena itu kemudian berkembang menjadi tren permanen. Akuarium kini bukan lagi sekadar wadah ikan, tetapi bagian dari desain interior modern, terapi relaksasi, hingga simbol gaya hidup premium.
Di media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube, konten aquascape dan ornamental fish berkembang menjadi industri konten tersendiri dengan jutaan penonton.
Analisis Google Trends yang pernah dipublikasikan Suhana menunjukkan bahwa sepanjang 2025 minat dunia terhadap “ornamental fish” meningkat signifikan, terutama menjelang akhir tahun.
Namun, yang menarik, pencarian publik global tidak lagi hanya soal jenis ikan, tetapi berkembang ke kata kunci seperti aquarium business, aquascape setup, fish breeding, hingga ornamental fish market. Artinya, ikan hias telah bergerak dari sekadar hobi menuju ekosistem ekonomi global.
Perubahan ini menciptakan pasar baru bernilai tinggi. Negara-negara seperti Jepang, Singapura, Thailand, China, hingga Belanda kini menjadi pemain penting dalam rantai perdagangan ornamental fish dunia.
Persaingan tidak lagi hanya pada volume, tetapi pada kualitas genetik, estetika, branding, dan kemampuan memasuki pasar premium.
Indonesia sesungguhnya memiliki modal besar dalam persaingan tersebut. Negara ini memiliki ribuan spesies ikan tropis, banyak di antaranya endemik dan bernilai tinggi di pasar internasional.
Dari arwana super red Kalimantan, botia Sumatera, cupang, koi, discus, hingga berbagai ikan nano tropis, Indonesia adalah salah satu “supermarket biodiversitas” ikan hias dunia.
Namun seperti banyak sektor kelautan lainnya, Indonesia menghadapi paradoks klasik: kaya sumber daya, tetapi belum selalu kuat dalam rantai nilai global.
Salah satu contoh paling menarik terlihat pada pasar koi. Data ekspor 2021–2025 menunjukkan nilai ekspor koi Indonesia meningkat lebih dari tujuh kali lipat hanya dalam lima tahun. Pada 2025, nilai ekspor koi Indonesia mencapai sekitar USD156 ribu, melonjak signifikan dibanding 2021 yang hanya sekitar USD19 ribu.
Kenaikan nilai itu terjadi ketika volume ekspor justru turun. Fenomena tersebut menunjukkan perubahan penting: Indonesia mulai menjual ikan dengan kualitas lebih tinggi dan harga lebih mahal.
Dalam industri ikan hias, kualitas jauh lebih penting dibanding jumlah. Seekor koi premium dengan pola warna sempurna bisa bernilai puluhan juta rupiah. Bahkan di pasar Jepang, koi kualitas kontes dapat dijual hingga miliaran rupiah.
Pasar global kini bergerak ke arah itu. Konsumen premium di Eropa, Timur Tengah, dan Asia Timur tidak lagi sekadar membeli ikan, tetapi membeli estetika, eksklusivitas, dan reputasi breeder.
Negara tujuan ekspor koi Indonesia juga menunjukkan pola menarik. Negara-negara Eropa seperti Republik Ceko, Belanda, dan Jerman menjadi pasar penting. Timur Tengah seperti Qatar dan Arab Saudi juga mulai tumbuh sebagai pembeli premium.
Ini menandakan ikan hias telah menjadi bagian dari ekonomi kelas menengah global. Ia masuk ke hotel mewah, taman privat, restoran premium, hingga kawasan residensial elite. Tetapi justru di sinilah tantangan Indonesia mulai terlihat.
Ancaman Teknologi dan Standar Global
Pakar perikanan dan kelauatan, Suhana, mengatakan, pasar ikan hias dunia kini semakin ditentukan oleh teknologi dan standar mutu. Negara-negara pesaing mulai mengembangkan breeding berbasis genetika, kontrol kualitas air otomatis, biosecurity ketat, hingga pemasaran digital berbasis AI.
Thailand misalnya berhasil membangun reputasi global untuk ikan cupang dan guppy melalui kombinasi branding, kompetisi internasional, dan digital marketplace.
Jepang tetap dominan pada koi karena reputasi kualitas yang dibangun puluhan tahun. Singapura unggul dalam logistik dan re-export ornamental fish global.
“Indonesia masih kuat pada biodiversitas, tetapi belum sepenuhnya unggul dalam sistem industri,” ujar Suhana.
Menurut Suhana, masalah klasiknya hampir sama dengan sektor seafood lain: logistik mahal, mortalitas tinggi saat pengiriman, layanan karantina yang lambat, dan lemahnya branding internasional.
Padahal pasar global semakin ketat. Negara importir kini makin sensitif terhadap isu kesehatan ikan, invasive species, penyakit akuakultur, hingga keberlanjutan lingkungan.
Transformasi perdagangan seafood dunia menunjukkan bahwa konsumen global tidak lagi hanya membeli produk murah. Mereka mulai membeli produk yang legal, sehat, berkelanjutan, dan dapat ditelusuri asal-usulnya.
Logika yang sama mulai masuk ke pasar ikan hias.
Eropa dan Amerika Utara semakin memperketat regulasi impor terkait animal welfare, biosecurity, dan traceability. Bahkan beberapa negara mulai memperhatikan jejak karbon dalam rantai perdagangan ornamental fish.
Artinya, masa depan industri ikan hias tidak lagi hanya ditentukan oleh keindahan ikan, tetapi juga kemampuan memenuhi standar global.
Indonesia menghadapi tantangan serius di sini. Banyak pembudidaya ikan hias nasional masih berbasis usaha kecil keluarga dengan teknologi sederhana. Sistem sertifikasi, standardisasi ekspor, dan perlindungan genetik ikan lokal juga belum kuat.
Jika tidak bertransformasi, Indonesia berisiko hanya menjadi pemasok ikan mentah murah, sementara nilai premium dinikmati negara lain.
Dari Hobi ke Geopolitik Ekonomi
Perubahan industri ikan hias juga menunjukkan fenomena yang lebih besar: seafood dunia sedang berubah secara struktural.
Laporan-laporan internasional sepanjang 2026 memperlihatkan bahwa perdagangan produk kelautan kini tidak lagi hanya ditentukan oleh produksi dan harga. Faktor keberlanjutan, teknologi, geopolitik perdagangan, digitalisasi, dan efisiensi rantai pasok mulai menjadi penentu utama.
Dalam konteks itu, ikan hias mungkin terlihat kecil dibanding tuna atau udang. Tetapi ia justru mencerminkan arah masa depan ekonomi kelautan dunia: produk bernilai tinggi, berbasis estetika, teknologi, dan komunitas global.
Indonesia sebenarnya memiliki peluang sangat besar untuk menjadi kekuatan ornamental fish dunia. Sentra-sentra seperti Bogor, Sukabumi, Blitar, Tulungagung, hingga Kalimantan telah memiliki komunitas breeder yang kuat.
Namun peluang itu membutuhkan perubahan besar. Pemerintah perlu memperkuat sistem karantina modern, mempercepat layanan ekspor ikan hidup, membangun pusat logistik ornamental fish, serta melindungi spesies lokal dari eksploitasi berlebihan.
Di sisi lain, riset genetika dan teknologi breeding harus diperkuat. Indonesia terlalu lama bergantung pada keunggulan alamiah tanpa investasi serius pada inovasi.
“Padahal masa depan pasar ikan hias global akan sangat ditentukan oleh teknologi reproduksi, kontrol kualitas, dan branding internasional,” imbuh Suhana.
Pelajaran penting lain datang dari ekonomi digital. Banyak breeder sukses global kini menjual ikan langsung melalui marketplace internasional dan media sosial. Artinya, kekuatan pemasaran digital menjadi sama pentingnya dengan kualitas ikan itu sendiri.
Indonesia memiliki generasi muda breeder yang kreatif. Tetapi mereka masih membutuhkan akses pembiayaan, pelatihan ekspor, dan perlindungan pasar yang lebih baik.
“Pada akhirnya, perubahan industri ikan hias dunia membawa satu pesan besar bagi Indonesia, yakni kekayaan biodiversitas saja tidak cukup,” tegas Suhana.
Dunia sedang bergerak menuju industri seafood yang lebih modern, lebih hijau, dan lebih berbasis teknologi. Negara yang mampu menguasai kualitas, standar global, dan inovasi akan menjadi pemain utama. Sementara negara yang lambat berubah hanya akan menjadi pemasok murah di pasar internasional.
Dan di balik gelembung kecil dalam akuarium-akuarium itu, sesungguhnya sedang berlangsung pertarungan ekonomi global yang jauh lebih besar dari yang terlihat.
