TRUMBU – Pagi itu bau anyir menusuk dari sudut pelabuhan perikanan. Di salah satu sudut yang tak jauh dari peti-peti fiber yang nampak, kepala ikan, tulang, kulit, dan jeroan berserakan di lantai beton. 

Bagi sebagian orang, itu sekadar sampah alias sisa produksi yang harus segera dibuang sebelum membusuk. Namun bagi industri global yang sedang berubah, tumpukan limbah itu justru dilihat sebagai bahan baku masa depan, sumber protein, kolagen, pupuk, energi, hingga bahan farmasi bernilai tinggi.

Di sinilah ironi sektor perikanan Indonesia. Sebagai salah satu produsen ikan terbesar dunia, negeri ini menghasilkan jutaan ton tangkapan dan produk olahan setiap tahun.

Tetapi sebagian besar nilai ekonomi masih berhenti pada daging ikan yang dijual segar atau dibekukan. Sementara bagian lain, kepala, tulang, sisik, kulit, dan jeroan, sering dianggap limbah.

Padahal, di pasar global, yang disebut limbah itu justru sedang diburu. Di banyak negara maju, industri perikanan tidak lagi mengukur keuntungan dari berapa banyak ikan ditangkap, melainkan dari seberapa optimal setiap bagian ikan dimanfaatkan. 

Prinsipnya sederhana: tak boleh ada bagian yang terbuang. Kepala ikan menjadi tepung protein. Kulit diolah menjadi kolagen. Tulang menjadi kalsium dan gelatin. Minyak jeroan dimurnikan menjadi omega-3 farmasi. Artinya, apa yang tersisa dari satu ekor ikan bisa bernilai lebih tinggi daripada dagingnya sendiri.

Setiap hari, sentra pengolahan ikan di Jakarta, Surabaya, Bitung, hingga Benoa menghasilkan limbah dalam jumlah besar. Dalam industri fillet, porsi limbah bahkan dapat mencapai 30–70 persen dari berat ikan, tergantung spesies dan metode pengolahan.

Bisa dikatakan, sederhananya, dari setiap 1 ton ikan yang diproses, ratusan kilogram tidak masuk pasar konsumsi langsung.

Di Indonesia, sebagian limbah ini dipakai untuk pakan skala kecil atau dibuang ke lingkungan. Di sejumlah tempat, limbah yang membusuk menjadi sumber pencemaran air pesisir, menurunkan kualitas sanitasi pelabuhan, dan memicu konflik lingkungan dengan warga sekitar. Padahal secara ekonomi, potensi yang hilang sangat besar.

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia, Food and Agriculture Organization (FAO), telah lama menekankan pentingnya pemanfaatan hasil samping perikanan sebagai bagian dari ekonomi sirkular. Negara-negara seperti Norway, Iceland, dan Japan bahkan menjadikan by-product fish processing sebagai sektor industri tersendiri bernilai miliaran dolar.

Indonesia Telat

Pakar perikanan dan kelautan, Suhana mengatakan, selama puluhan tahun, logika bisnis perikanan di Indonesia sederhana: tangkap ikan, jual daging, ekspor. Semakin besar volume, semakin besar keuntungan. Tetapi model itu kini mulai goyah.

“Stok ikan di banyak wilayah penangkapan tertekan. Pasar global menuntut sertifikasi hijau. Biaya logistik meningkat. Dan margin keuntungan produk primer semakin tipis,” ujar Suhana.

Industri kemudian mencari jalan baru: meningkatkan nilai tambah dari setiap kilogram bahan baku. Di sinilah limbah ikan menjadi aset strategis.

Kulit ikan kakap atau nila, misalnya, dapat diolah menjadi kolagen untuk industri kosmetik dan suplemen. Nilai jual kolagen food-grade atau pharmaceutical-grade bisa berkali-kali lipat dibanding harga ikan segar.

Jeroan ikan tertentu dapat diekstrak menjadi minyak kaya EPA dan DHA untuk suplemen kesehatan. Tulang dan sisik dapat diolah menjadi gelatin halal, komoditas yang permintaannya terus tumbuh seiring berkembangnya industri pangan dan farmasi.

Dengan kata lain, masa depan industri perikanan bukan hanya menjual ikan sebagai pangan. Tetapi menjual komponen bioaktif yang terkandung di dalamnya.

Namun, kata Suhana, masalah utama Indonesia bukan kekurangan bahan baku, melainkan minimnya industri hilir.

Data menunjukkan produksi perikanan tangkap dan budidaya nasional termasuk terbesar di dunia. Namun sebagian besar ekspor masih berupa produk primer: ikan utuh beku, fillet sederhana, atau bahan mentah.

“Negara lain membeli ikan Indonesia, lalu memproses limbahnya menjadi produk bernilai tinggi. Nilai tambah justru dinikmati di luar negeri,” tegas Suhana.

Ini pola klasik ekonomi ekstraktif, negara produsen memasok bahan baku murah, negara pengolah menikmati keuntungan teknologi.

Di sektor perikanan, pola itu terlihat jelas. Indonesia kaya laut, tetapi belum optimal mengembangkan industri biorefinery kelautan, yakni pengolahan seluruh komponen hasil laut menjadi berbagai produk turunan bernilai tinggi.

“Akibatnya, potensi ekonomi dari limbah justru menguap,” jelas Suhana.

Ia juga menjelaskan konsep ekonomi sirkular yang menjadi kata kunci baru dalam industri pangan global. Sektor perikanan sangat cocok untuk model ini karena setiap bagian ikan memiliki kandungan yang bisa dimanfaatkan. 

“Bahkan air limbah pencucian pun dapat diolah kembali untuk ekstraksi protein terlarut,” ujar Suhana. 

Di Iceland, satu ekor cod dimanfaatkan hampir 100 persen. Daging dijual sebagai pangan. Kepala dikeringkan untuk ekspor ke Afrika. 

Kulit menjadi kolagen. Enzim dari organ dalam dipakai untuk bioteknologi medis. Hasil akhirnya: nilai ekonomi seekor ikan meningkat berkali lipat.

“Indonesia memiliki peluang serupa, terutama untuk komoditas seperti tuna, cakalang, patin, dan nila,” ujar Suhana.

Tuna menjadi contoh menarik. Nilai ekspor tuna Indonesia pada 2025 dilaporkan melampaui USD 1 miliar atau sekitar Rp17 triliun pada kurs Rp17.000 per dolar AS. 

Tetapi transformasi industri kini bergeser dari volume tangkapan menuju pendekatan berbasis nilai: setiap bagian ikan dimanfaatkan secara optimal. Ini mulai menandakan perubahan paradigma yang sama mulai muncul di Indonesia, meski masih sangat terbatas.

Sektor perikanan sering dianggap kuno dan tidak menarik bagi anak muda. Tetapi pengolahan limbah menjadi produk bioteknologi justru menghadirkan wajah baru: startup, riset pangan, green chemistry, hingga biomaterial.

Anak muda tidak harus menjadi nelayan untuk masuk ke sektor ini. Mereka bisa menjadi inovator yang mengembangkan pakan berbasis limbah, produsen kolagen, pembuat pupuk organik, atau perusahaan teknologi pengolahan.

Beberapa inisiatif sudah muncul. Di Jawa Barat, ada pengolahan limbah ikan menjadi tepung pakan. Di Belitung, model ekonomi biru memanfaatkan limbah pasar ikan untuk bahan pakan murah dan mendukung budidaya lokal. Skalanya memang masih kecil. Namun arah transformasinya jelas.

Mengapa potensi ini belum meledak? Suhana menjawb hal ini karena dua hal: teknologi dan kebijakan.

Pertama, pengolahan limbah bernilai tinggi membutuhkan fasilitas yang tidak murah. Produksi kolagen, minyak omega-3, atau gelatin farmasi memerlukan standar sanitasi tinggi, ekstraksi modern, dan laboratorium kualitas.

Kedua, kebijakan perikanan Indonesia selama ini masih terlalu fokus pada produksi primer. Narasi yang dominan adalah volume tangkapan, ekspor, dan kapal. Belum banyak kebijakan yang mendorong pemanfaatan hasil samping secara terintegrasi.

Akibatnya, limbah ikan masih dipandang sebagai masalah sanitasi, bukan aset industri. Padahal di era ekonomi biru, 

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki semua syarat: bahan baku melimpah, tenaga kerja, pasar domestik besar, dan posisi strategis di Asia.

Namun selama ini, laut terlalu lama dipahami hanya sebagai sumber tangkapan. Padahal nilai terbesar justru mungkin bukan pada ikan yang dijual di pasar, tetapi pada limbah yang selama ini dibuang di belakang pabrik.

Kepala ikan yang menumpuk di pelabuhan, sisik yang lengket di lantai pengolahan, atau tulang yang dibuang ke tempat sampah, semuanya dapat menjadi bahan baku industri masa depan.

Pertanyaannya tinggal satu: apakah Indonesia akan terus mengekspor ikan mentah dan membiarkan negara lain mengambil nilai tambahnya, atau mulai melihat limbah sebagai tambang baru ekonomi biru?

Karena di tengah krisis sumber daya dan tuntutan keberlanjutan global, masa depan industri perikanan mungkin tidak lagi berada di laut lepas. Melainkan di tumpukan sisa ikan yang selama ini dianggap tak berharga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *