TRUMBU – Dari riak kolam budidaya di tepian sungai Sumatera hingga meja makan ribuan kilometer jauhnya di Tanah Suci, ikan patin Indonesia bersiap menempuh perjalanan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Ikan air tawar yang selama ini lekat dengan hidangan rumahan masyarakat Nusantara itu kini tengah diarahkan menjadi bagian dari santapan jemaah haji dan umrah di Arab Saudi.
Di balik langkah tersebut, pemerintah mulai menyusun strategi untuk menjadikan patin sebagai salah satu komoditas andalan dalam rantai pasok pangan nasional bagi jutaan jemaah Indonesia yang setiap tahun beribadah ke Makkah dan Madinah.
Melalui skema pengembangan ekosistem pangan haji dan umrah, komoditas budidaya ini dipandang memiliki peluang besar untuk tampil sebagai sumber protein utama yang dapat dikirim langsung dari dalam negeri menuju dapur-dapur penyedia konsumsi di Tanah Suci.
Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (BPPMHKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Ishartini, mengatakan proses negosiasi dengan pemerintah Arab Saudi hingga kini masih berjalan. Menurut dia, Indonesia masih menunggu persetujuan resmi dari otoritas keamanan pangan Arab Saudi atau Saudi Food and Drug Authority (SFDA).
“Memang kita belum mendapatkan approval. Namun demikian ini sudah di dalam proses. Seluruh persyaratan yang diminta oleh SFDA sudah kita penuhi,” kata Ishartini.
Pemerintah menilai peluang pasar tersebut sangat menjanjikan. Selain karena tingginya kebutuhan konsumsi jemaah haji, pasar umrah yang berlangsung sepanjang tahun juga membuka ruang permintaan yang jauh lebih besar.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP, Machmud, menyebut kebutuhan ikan patin untuk konsumsi jemaah haji diperkirakan mencapai 600 hingga 700 ton per musim. Estimasi itu dihitung berdasarkan jumlah jemaah Indonesia yang rata-rata mencapai lebih dari 200 ribu orang setiap tahun.
Jika pasar umrah turut dimasukkan dalam perhitungan, volume kebutuhan berpotensi meningkat berkali-kali lipat. Sebab, berdasarkan data Kementerian Agama, jumlah jemaah umrah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir bahkan menembus lebih dari 1,5 juta orang per tahun.
Indonesia sebenarnya bukan pemain baru dalam rantai pasok pangan haji berbasis ikan patin. Pada musim haji 2019, Indonesia pernah mengekspor hampir 300 ton ikan patin ke Arab Saudi dalam bentuk fillet dan potongan siap olah.
Namun ekspor tersebut terhenti ketika pandemi Covid-19 melanda dunia dan mengganggu rantai distribusi global. Kini, seiring pulihnya aktivitas haji dan perdagangan internasional, pemerintah berupaya membuka kembali jalur ekspor tersebut secara lebih permanen.
Pasar Besar
Dari sisi ekonomi, peluang ekspor ini tidak bisa dipandang kecil. Jika mengacu pada harga rata-rata fillet patin ekspor yang berada di kisaran US$2,5 hingga US$4 per kilogram, maka potensi nilai perdagangan untuk kebutuhan 700 ton bisa mencapai sekitar US$1,75 juta hingga US$2,8 juta per musim atau setara Rp28 miliar hingga Rp45 miliar.
Nilai itu baru berasal dari pasar haji saja. Jika pasar umrah berhasil digarap secara maksimal, potensi ekonominya dapat meningkat berkali-kali lipat dan membuka ceruk ekspor baru bagi industri perikanan budidaya nasional.
Apalagi selama ini pasar patin Arab Saudi masih didominasi pasokan dari Vietnam. Negara tersebut telah lama menjadi eksportir utama ikan patin dunia melalui komoditas pangasius yang dikenal luas di pasar internasional.
Di sisi lain, produk perikanan Indonesia juga harus bersaing dengan negara lain dalam menu konsumsi jemaah. Untuk produk tuna dan cakalang kaleng misalnya, pasar masih dikuasai oleh Thailand yang memiliki industri pengolahan kuat dan jaringan ekspor global mapan.
Meski kini menjadi salah satu komoditas unggulan budidaya nasional, ikan patin sejatinya bukan spesies asing bagi masyarakat Indonesia. Ikan ini telah lama hidup di perairan tawar Nusantara, terutama di sungai-sungai besar Sumatera dan Kalimantan.
Dalam catatan sejarah perikanan, patin lokal awalnya dikenal sebagai ikan tangkapan liar yang banyak ditemukan di Sungai Musi, Sungai Batanghari, hingga Sungai Kapuas. Masyarakat lokal telah lama mengonsumsinya sebagai sumber protein tradisional, bahkan menjadikannya bagian dari kuliner khas daerah.
Namun pengembangan patin secara modern mulai berlangsung pesat pada dekade 1980-an hingga 1990-an ketika teknologi budidaya air tawar berkembang di Indonesia. Pemerintah saat itu mulai memperkenalkan teknik pembenihan dan pembesaran patin secara massal untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik.
Masuknya varietas patin siam (Pangasius hypophthalmus) dari Thailand kemudian mempercepat industrialisasi budidaya ikan ini. Jenis tersebut dinilai memiliki pertumbuhan cepat, efisiensi pakan tinggi, dan produktivitas besar sehingga cocok dikembangkan secara komersial.
Kini, patin menjadi salah satu komoditas andalan budidaya air tawar Indonesia bersama nila, lele, dan gurame. Berdasarkan data KKP, produksi patin nasional dalam beberapa tahun terakhir stabil di kisaran ratusan ribu ton per tahun dengan sentra utama berada di Sumatera Selatan, Jambi, Riau, Lampung, Jawa Barat, dan Kalimantan Selatan.
Meski peluang ekspor terbuka lebar, tantangan yang dihadapi tidak sedikit. Salah satu hambatan terbesar adalah standar mutu dan keamanan pangan internasional yang semakin ketat.
Pasar Timur Tengah, khususnya Arab Saudi, menerapkan regulasi ketat terkait sertifikasi halal, keamanan produk, hingga ketelusuran rantai pasok pangan. Karena itu, Indonesia harus memastikan seluruh proses produksi patin—mulai dari budidaya hingga pengolahan—memenuhi standar global.
Selain itu, efisiensi produksi dan daya saing harga juga menjadi faktor penentu. Vietnam selama ini unggul karena memiliki skala industri besar, teknologi pengolahan maju, dan biaya produksi yang relatif rendah.
Jika Indonesia ingin bersaing, maka peningkatan kualitas, kontinuitas pasokan, dan efisiensi logistik harus menjadi prioritas utama. Tanpa itu, peluang pasar hanya akan menjadi wacana tanpa realisasi.
Namun apabila berhasil, ekspor patin ke Arab Saudi bukan sekadar transaksi dagang biasa. Ia dapat menjadi simbol bahwa komoditas budidaya lokal Indonesia mampu naik kelas dan menembus rantai pasok pangan global yang lebih prestisius.
Dari kolam-kolam budidaya di desa hingga meja makan jemaah di Makkah dan Madinah, perjalanan ikan patin Indonesia kini tengah menuju panggung baru. Pertanyaannya tinggal satu: siapkah industri nasional memanfaatkan peluang emas ini sebelum kembali direbut negara lain.
