TRUMBU – Di balik hiruk-pikuk industri pengolahan ikan tuna, ada satu bagian yang selama ini nyaris tak dilirik: mata ikan. Bagi sebagian besar pelaku industri, bagian ini hanyalah limbah yang tidak bernilai. Ia dibuang, dilupakan, dan dianggap tidak memiliki manfaat ekonomi.
Namun di tangan, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, Prof. Wini Trilaksani bagian yang terabaikan itu justru menjadi titik awal sebuah inovasi penting, yakni Vita Docosa.
Suplemen berbasis ekstrak mata ikan tuna ini bukan sekadar produk kesehatan. Ia adalah hasil perjalanan panjang riset, kegelisahan akademik, dan upaya mencari solusi nyata atas persoalan gizi di Indonesia.
Gagasan Vita Docosa tidak lahir secara instan. Ia berangkat dari realitas sederhana di industri perikanan: tingginya volume limbah yang belum dimanfaatkan.
Dalam praktiknya, hanya sekitar 40 hingga 60 persen bagian tubuh tuna yang digunakan. Sisanya termasuk kepala dan mata sering kali terbuang tanpa pengolahan lebih lanjut.
Sebagai peneliti di bidang pengolahan hasil perikanan, Prof. Wini melihat kondisi ini sebagai ironi. Di satu sisi, Indonesia kaya akan sumber daya laut. Di sisi lain, pemanfaatannya masih jauh dari optimal.
Dari situlah riset dimulai, penelitian awal berfokus pada kandungan nutrisi dalam bagian-bagian ikan yang selama ini dianggap limbah. Hasilnya cukup mengejutkan. Mata ikan tuna ternyata mengandung DHA dalam kadar tinggi, bahkan melampaui beberapa sumber ikan impor.
Pengembangan Vita Docosa kemudian memasuki fase yang lebih kompleks. Tidak hanya mengidentifikasi kandungan nutrisi, tetapi juga bagaimana mengekstraknya secara aman, higienis, dan tetap mempertahankan kualitasnya.
Tim peneliti harus memastikan bahwa minyak yang dihasilkan bebas dari kontaminan, memiliki stabilitas yang baik, serta memenuhi standar keamanan pangan. Berbagai uji laboratorium dilakukan untuk mendapatkan formulasi yang tepat.
“Minyak dari mata tuna itu tidak perlu dikonsentratkan lagi. Dengan sedikit proses pemurnian, kandungan DHA-nya bisa mencapai 40 persen,” jelas Prof. Wini.
Keunggulan ini menjadi fondasi utama pengembangan Vita Docosa. Berbeda dengan minyak ikan dari sumber lain yang membutuhkan proses pemekatan panjang, bahan baku dari mata tuna memungkinkan produksi yang lebih efisien dengan kualitas yang tetap tinggi.
Seiring berjalannya waktu, riset ini tidak lagi sekadar berfokus pada inovasi produk, tetapi juga diarahkan untuk menjawab persoalan yang lebih besar: gizi masyarakat Indonesia.
Salah satu isu utama yang menjadi perhatian adalah stunting. Selama ini, stunting sering dipahami sebagai masalah tinggi badan anak. Namun, bagi para peneliti, dampaknya jauh lebih kompleks, terutama pada perkembangan otak dan kemampuan kognitif.
Kekurangan DHA menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi kondisi tersebut.
“Apa yang kami khawatirkan adalah anak-anak stunting juga memiliki kemampuan kognitif rendah. Itu berdasarkan hasil riset, salah satunya karena asupan DHA yang tidak mencukupi,” ujar Prof. Wini.
Di sinilah Vita Docosa menemukan relevansinya. Produk ini dirancang untuk membantu memenuhi kebutuhan DHA, terutama bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak, kelompok yang paling membutuhkan asupan nutrisi tersebut.
Selain aspek kesehatan, pengembangan Vita Docosa juga memiliki dimensi ekonomi yang tidak kalah penting.
Selama ini, pasar suplemen di Indonesia masih didominasi oleh produk impor. Bahkan, sebagian produk lokal pun masih menggunakan bahan baku dari luar negeri.
Kondisi ini menunjukkan adanya ketergantungan yang cukup tinggi, meskipun Indonesia memiliki sumber daya laut yang melimpah.
“Pasar suplemen kita masih dibanjiri produk luar, sementara produk dari dalam negeri hampir tidak ada. Kalaupun ada, bahan bakunya juga masih impor,” kata Prof. Wini.
Melalui Vita Docosa, upaya dilakukan untuk membangun kemandirian industri berbasis sumber daya lokal.
Ini bukan hanya soal substitusi impor, tetapi juga tentang menciptakan nilai tambah dari bahan baku yang selama ini terbuang.
Produk Lokal Potensi Global
Vita Docosa hadir dengan komposisi yang dirancang secara komprehensif. Dalam satu kapsul, terkandung Omega-3 (EPA dan DHA), minyak ikan, minyak kelapa murni (virgin coconut oil), serta vitamin E.
Dengan konsumsi dua kapsul per hari, kebutuhan DHA sesuai Angka Kecukupan Gizi (AKG) dapat terpenuhi.
Manfaatnya pun tidak terbatas pada satu kelompok usia. Selain mendukung perkembangan otak dan retina, DHA juga berperan dalam menjaga kesehatan jantung, meningkatkan daya ingat, serta mendukung metabolisme tubuh.
Keunggulan lain terletak pada harga yang lebih terjangkau dibandingkan produk impor, menjadikannya lebih inklusif bagi masyarakat luas.
Perjalanan Vita Docosa menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, ia justru lahir dari hal-hal kecil yang selama ini terabaikan.
Dari limbah mata ikan, lahir sebuah produk yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memiliki dampak sosial yang luas.
Lebih dari itu, Vita Docosa menjadi contoh bagaimana riset akademik dapat diterjemahkan menjadi solusi nyata bagi masyarakat.
“Indonesia punya laut yang luas dan kekayaan perikanan yang melimpah. Kita seharusnya bisa memanfaatkannya untuk kesehatan dan kecerdasan generasi masa depan bangsa,” ujar Prof. Wini.
Di tengah tantangan gizi dan ketergantungan impor, pesan itu terasa semakin relevan. Bahwa masa depan tidak selalu harus dicari jauh-jauh. Ia bisa saja sudah ada di depan mata, bahkan pada sesuatu yang selama ini kita anggap tidak berharga.
Kandungan mata ikan tuna tergolong sangat kaya nutrisi, terutama komponen bioaktif yang penting bagi kesehatan manusia. Bagian yang selama ini kerap dianggap limbah ini justru menyimpan senyawa bernilai tinggi, khususnya lemak esensial dan mikronutrien.
Berikut penjelasan kandungan utamanya:
1. Omega-3 (DHA dan EPA)
Komponen paling menonjol dari mata tuna adalah asam lemak Omega-3, terutama:
DHA (Docosahexaenoic Acid)
EPA (Eicosapentaenoic Acid)
Kandungan DHA pada mata tuna dapat mencapai sekitar 32–38 persen, bahkan setelah pemurnian bisa mendekati 40 persen.
DHA berperan penting dalam:
* Perkembangan otak dan sistem saraf
* Fungsi penglihatan (retina)
* Peningkatan daya ingat dan kognisi
Sementara EPA berfungsi untuk:
* Menjaga kesehatan jantung
* Mengurangi peradangan
* Mendukung sistem imun
2. Lemak Tak Jenuh (Healthy Fats)
Minyak dari mata tuna didominasi oleh lemak tak jenuh, yang lebih sehat dibandingkan lemak jenuh.
Manfaatnya antara lain:
* Menurunkan risiko penyakit kardiovaskular
* Membantu metabolisme tubuh
* Menjaga keseimbangan kolesterol
3. Fosfolipid
Mata tuna juga mengandung fosfolipid, yaitu komponen lemak yang penting untuk:
* Struktur membran sel, terutama sel otak
* Penyerapan DHA yang lebih efektif dalam tubuh
* Mendukung fungsi neurologis
4. Protein dan Asam Amino
Meskipun tidak setinggi pada daging ikan, mata tuna tetap mengandung:
* Protein
* Asam amino esensial
Yang berfungsi untuk:
* Perbaikan jaringan tubuh
* Pertumbuhan sel
* Pembentukan enzim dan hormon
5. Vitamin E
Vitamin E dalam ekstrak mata tuna berperan sebagai antioksidan alami yang:
* Melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas
* Menjaga kesehatan kulit dan jaringan
* Mendukung sistem imun
6. Mikronutrien Lain
Dalam jumlah lebih kecil, mata tuna juga mengandung:
* Mineral (seperti selenium dan fosfor)
* Senyawa antioksidan tambahan
Yang membantu:
* Menjaga fungsi sel
* Mendukung kesehatan tulang
* Meningkatkan daya tahan tubuh
Secara keseluruhan, mata ikan tuna merupakan sumber DHA alami terbaik yang sangat tinggi dan efisien, bahkan lebih unggul dibandingkan beberapa sumber ikan impor.
Inilah yang menjadikannya sangat potensial untuk:
* Suplemen ibu hamil dan anak
* Pencegahan stunting
* Dukungan kesehatan otak dan jantung

