TRUMBU – Di salah ruang kontrol yang sunyi di pinggiran kota pesisir Bergen, Norwegia, layar-layar digital memantau suhu air, kadar oksigen, hingga pola makan ikan salmon dalam keramba.
Deretan sensor membaca pergerakan biomassa, algoritma memprediksi penyakit, dan data langsung terhubung ke pasar Eropa serta Amerika Utara.
Inilah wajah baru industri seafood dunia. Laut tak lagi sekadar ruang tangkap. Ia telah berubah menjadi industri pangan berteknologi tinggi, medan persaingan global yang mempertemukan inovasi, keberlanjutan, dan geopolitik perdagangan. Negara yang lambat beradaptasi akan tertinggal, tak peduli seberapa luas wilayah laut yang dimilikinya.
Bagi Indonesia, negara kepulauan terbesar di dunia dengan garis pantai lebih dari 108 ribu kilometer, perubahan ini bukan kabar jauh dari luar negeri.
Ia adalah peringatan. Sebab di tengah ambisi menjadi poros maritim dunia, sektor kelautan nasional sedang menghadapi persimpangan: menjadi pemain utama dalam industri seafood modern, atau tetap bertahan sebagai pemasok bahan mentah murah di pasar global.
Dalam dua pekan pertama Mei 2026, media industri seperti SeafoodSource, IntraFish, dan The Fish Site nyaris serempak menyoroti tren yang sama. Pemberitaan seafood global tidak lagi didominasi laporan tangkapan ikan atau ekspor hasil laut.
Isu yang muncul justru berkisar pada keberlanjutan, teknologi budidaya, emisi karbon, kesejahteraan ikan, hingga ancaman perang dagang. Ini menandai satu perubahan mendasar: seafood kini telah menjadi arena industri strategis global.
Salah satu perubahan paling mencolok adalah pergeseran dari perikanan tangkap ke akuakultur. Dunia mulai menerima kenyataan bahwa laut memiliki batas.
Stok ikan liar di banyak perairan menurun akibat penangkapan berlebih, kerusakan habitat, dan perubahan iklim. Di saat permintaan protein laut terus naik, banyak negara tak lagi bisa mengandalkan kapal penangkap ikan semata.
Karena itu, budidaya menjadi masa depan. Negara-negara maju berlomba mengembangkan sistem recirculating aquaculture systems (RAS), sebuah teknologi budidaya tertutup yang memungkinkan ikan dipelihara di darat dengan penggunaan air yang sangat efisien.
Teknologi ini dilengkapi sensor otomatis, kecerdasan buatan, dan sistem pemantauan kesehatan ikan secara real-time. Dengan cara itu, produksi seafood menjadi lebih terukur, lebih higienis, dan lebih dekat ke pusat konsumsi.
Pakar perikanan dan kelautan, Suhan mengatakan, bagi Indonesia, perubahan ini seharusnya menjadi alarm sekaligus peluang. Meskipun selama ini, sektor budidaya nasional memang berkembang, terutama pada udang vaname, nila, dan rumput laut.
“Namun sebagian besar masih bergantung pada model tradisional atau semi-intensif, dengan tantangan klasik, mulai dari penyakit, produktivitas rendah, dan kualitas air yang tidak stabil,” ujar Suhana.
Suhana juga menuturkan, Indonesia memiliki modal besar. Produksi kelautan dan perikanan nasional pada 2025 mencapai sekitar 26,25 juta ton. Nilai ekspornya menembus USD6,27 miliar, atau sekitar Rp107 triliun.
Angka itu menempatkan Indonesia sebagai salah satu eksportir seafood utama dunia. Tetapi di balik angka tersebut, struktur industrinya masih rapuh. Sebagian besar ekspor masih berupa bahan mentah atau produk semi-olah, sementara negara lain menikmati nilai tambah melalui pengolahan, branding, dan distribusi global.
Menurut Suhana, perubahan dunia seafood juga memperlihatkan bagaimana keberlanjutan telah bergeser dari isu lingkungan menjadi instrumen ekonomi. Konsumen di Eropa dan Amerika Utara kini tidak hanya bertanya apakah ikan itu segar, tetapi bagaimana ikan itu diproduksi.
Apakah berasal dari penangkapan legal? Apakah tidak merusak terumbu karang? Apakah pakan yang digunakan tidak menyebabkan deforestasi? Bahkan, apakah ikan tersebut diperlakukan secara “manusiawi” selama masa budidaya?

Suhana juga mencontohkan, kritik terhadap industri salmon Norwegia beberapa waktu terakhir memperlihatkan betapa sensitifnya isu ini. Sejumlah investigasi media internasional menyoroti limbah budidaya salmon yang mencemari fjord dan mengganggu ekosistem laut.
“Tuduhan itu langsung berdampak pada citra industri dan mendorong perdebatan politik di Norwegia. Dengan kata lain, isu lingkungan kini dapat mengubah harga saham perusahaan seafood,” ujar Suhana.
Indonesia belum sepenuhnya siap menghadapi standar semacam itu. Dalam banyak sentra produksi, sistem traceability atau keterlacakan produk masih lemah.
Ikan hasil tangkapan dari berbagai kapal sering bercampur di pelabuhan, sehingga sulit menelusuri asal-usulnya. Padahal di pasar modern, jejak digital produk menjadi syarat mutlak. Tanpa itu, akses ke pasar premium akan semakin sempit.
Selain itu, perubahan lain datang dari geopolitik. Dalam beberapa bulan terakhir, Amerika Serikat mulai mengintensifkan pembahasan penggunaan Section 301 terhadap produk seafood impor. Langkah ini didorong kekhawatiran terhadap praktik dumping, subsidi negara, dan isu tenaga kerja di negara-negara eksportir.
“Ini menunjukkan bahwa seafood bukan lagi sekadar komoditas pangan, melainkan bagian dari strategi nasionalisme ekonomi,” ujar Suhana yang juga Wakil Rektor di UTMJ itu.
Bagi Indonesia, ancaman ini nyata. Amerika Serikat selama ini menjadi salah satu pasar utama ekspor udang dan tuna nasional. Jika kebijakan perdagangan berubah, dampaknya akan terasa langsung pada ribuan industri pengolahan di Lampung, Jawa Timur, hingga Sulawesi Selatan.
Di sisi lain, rantai pasok global juga sedang berubah akibat tekanan biaya energi. Industri seafood sangat sensitif terhadap logistik. Ikan harus didinginkan, dibekukan, dan dikirim cepat. Ketika harga bahan bakar naik atau jalur pelayaran terganggu, seluruh struktur biaya ikut melonjak. Negara yang memiliki infrastruktur rantai dingin modern akan lebih bertahan. Yang tidak, akan kehilangan daya saing.
Masalah ini sangat relevan bagi Indonesia. Banyak daerah penghasil ikan terbesar justru berada di timur: Maluku, Maluku Utara, Papua Selatan, hingga Sulawesi Tenggara. Namun industri pengolahan, pelabuhan ekspor, dan laboratorium mutu masih terkonsentrasi di Jawa. Akibatnya, nilai tambah ekonomi sering mengalir ke barat, sementara daerah penghasil tetap menjual ikan segar dengan margin tipis.
Dalam peta global, tantangan terbesar mungkin justru teknologi pakan. Industri akuakultur modern bergantung pada fishmeal, tepung ikan yang dibuat dari ikan pelagis kecil. Permintaan terus meningkat, sementara stok bahan baku terbatas. Karena itu, perusahaan-perusahaan besar mulai mengembangkan pakan berbasis serangga, alga, fermentasi mikroba, hingga protein sintetis.
Di sinilah masa depan seafood dunia ditentukan, bukan hanya di laut, tetapi di laboratorium. Negara yang mampu mengembangkan teknologi pakan murah dan berkelanjutan akan memiliki keunggulan besar.
“Indonesia, dengan biodiversitas tropis yang sangat kaya, seharusnya punya peluang besar. Namun investasi riset masih tertinggal, dan kolaborasi antara kampus, pemerintah, dan industri belum sekuat negara-negara pesaing,” imbuh Suhana.
Perubahan iklim memperumit semuanya. Pemanasan laut mengubah pola migrasi ikan. Cuaca ekstrem mengurangi hari melaut. Kenaikan suhu air memicu penyakit di tambak. Di perairan timur Indonesia, nelayan mulai merasakan musim yang tak lagi dapat diprediksi. Laut yang dulu menjadi penopang hidup kini semakin sulit dibaca.
Bagi rumah tangga pesisir, perubahan ini bukan konsep ilmiah. Ia adalah penghasilan yang hilang. Ketika kapal tak bisa berangkat karena cuaca buruk, dapur keluarga berhenti berasap. Ketika penyakit menyerang tambak, petambak kehilangan modal satu musim penuh.
Di sinilah pelajaran besar bagi Indonesia. Dunia seafood sedang bergerak menuju industri yang lebih modern, lebih hijau, dan lebih berbasis data. Produksi besar saja tak cukup. Negara harus mampu menjamin keberlanjutan, kualitas, dan inovasi.
Indonesia sebenarnya memiliki semua prasyarat untuk menjadi kekuatan seafood dunia: laut luas, biodiversitas tinggi, tenaga kerja besar, dan pasar domestik yang kuat. Tetapi potensi tak otomatis menjadi kekuatan. Ia membutuhkan transformasi.
Transformasi itu dimulai dari modernisasi budidaya, digitalisasi rantai pasok, investasi riset pakan, serta penguatan sumber daya manusia pesisir. Tanpa itu, Indonesia hanya akan terus mengekspor ikan mentah, sementara nilai tambah dinikmati negara lain.
Ketika dunia seafood berubah, laut Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton. Sebab di masa depan, yang menentukan bukan lagi siapa yang paling banyak menangkap ikan, tetapi siapa yang paling cepat menguasai teknologi, menjaga keberlanjutan, dan membaca arah pasar global.
