TRUMBU – Gelombang panas yang terasa menyengat di berbagai wilayah Indonesia hari ini bukan sekadar fenomena biasa, melainkan bagian dari pola iklim yang lebih luas.

Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan suhu udara di sejumlah daerah meningkat signifikan dalam beberapa hari terakhir, memperkuat sinyal bahwa dinamika El Niño masih memengaruhi sistem cuaca nasional.

Kondisi panas ekstrem yang dirasakan masyarakat di daratan ternyata memiliki keterkaitan erat dengan apa yang terjadi di laut. Fenomena yang populer disebut “Godzilla El Niño” menggambarkan bagaimana peristiwa iklim ekstrem tidak hanya memicu kekeringan, tetapi juga memanaskan perairan Indonesia secara drastis.

Istilah “Godzilla El Niño” memang bukan istilah ilmiah resmi, tetapi digunakan untuk menggambarkan skala dan dampak besar dari El Niño ekstrem. Julukan ini merujuk pada peristiwa 2015–2016 yang menunjukkan bagaimana satu fenomena iklim mampu memicu gangguan global dalam berbagai sektor.

Pada periode tersebut, Asia Tenggara mengalami kekeringan berkepanjangan yang berdampak luas terhadap pertanian dan ketersediaan air. Di sisi lain, wilayah seperti Amerika Selatan justru dilanda banjir besar, sementara Australia menghadapi kebakaran hutan yang masif.

Pengamat perikanan dan kelautan Suhana mengatakan, di Indonesia, dampak El Niño selama ini lebih sering dipahami sebagai penurunan curah hujan dan ancaman terhadap produksi pangan di darat. Padahal, sebagai negara kepulauan, ancaman yang tidak kalah besar justru datang dari laut yang mengalami pemanasan ekstrem.

Ketika daratan mengalami kekeringan, lautan bisa mengalami kondisi yang diibaratkan sebagai “demam tinggi”. Pemanasan ini tidak hanya memengaruhi suhu air, tetapi juga mengganggu keseimbangan ekosistem laut secara keseluruhan.

Temuan penting mengenai fenomena ini diungkap dalam penelitian Beliyana dan Tarya (2024) berjudul Extreme Marine Heatwaves in the Southern Java during 2016. Studi tersebut meneliti karakteristik gelombang panas laut atau marine heatwaves (MHWs) di wilayah selatan Jawa dalam rentang waktu panjang.

Penelitian itu menunjukkan bahwa tahun 2016 menjadi salah satu periode paling ekstrem dalam empat dekade terakhir. Gelombang panas laut yang terjadi pada tahun tersebut tercatat memiliki durasi dan intensitas yang sangat tinggi dibandingkan tahun-tahun lainnya.

Peneliti menuliskan, “the most prolonged durations and the highest cumulative intensities of MHWs in southern Java were recorded during 2016, spanning approximately 255 days and 419.28 °C, respectively.” Kutipan tersebut menegaskan bahwa perairan selatan Jawa mengalami pemanasan laut yang berlangsung hampir sepanjang tahun.

Dalam terjemahan yang lebih sederhana, gelombang panas laut tersebut berlangsung sekitar 255 hari dengan intensitas kumulatif mencapai 419,28°C. Angka ini menunjukkan bahwa kondisi laut berada dalam anomali panas dalam waktu yang sangat lama.

“Durasi selama 255 hari bukan sekadar angka statistik, melainkan indikator tekanan ekologis yang serius. Hampir sepanjang tahun, suhu laut berada di atas kondisi normal yang seharusnya,” ujar Suhana.

Penelitian tersebut juga mencatat bahwa suhu permukaan laut meningkat sekitar 2°C dari kondisi normal. Bagi manusia, kenaikan ini mungkin terasa kecil, tetapi bagi ekosistem laut, perubahan tersebut sangat signifikan.

Kenaikan suhu beberapa derajat saja dapat mengubah perilaku ikan secara drastis. Ikan dapat berpindah dari habitat aslinya, sehingga nelayan kesulitan menemukan daerah tangkapan yang produktif.

Selain itu, plankton sebagai dasar rantai makanan laut juga mengalami penurunan produktivitas. Dampaknya merambat ke seluruh ekosistem, termasuk spesies ikan bernilai ekonomi tinggi.

Terumbu karang pun menjadi salah satu korban utama dari pemanasan laut. Suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan pemutihan karang atau coral bleaching yang berujung pada kematian ekosistem tersebut.

Beliyana dan Tarya (2024) menegaskan bahwa pemanasan ekstrem ini “increases stratification in the ocean, weakens mixing process, and suppresses the intensity of upwelling.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa perubahan suhu berdampak langsung pada dinamika fisik laut.

Dalam bahasa sederhana, laut menjadi lebih berlapis sehingga pencampuran air berkurang. Proses alami yang biasanya membawa nutrien dari dasar laut ke permukaan pun menjadi terganggu.

Padahal, wilayah selatan Jawa dikenal sebagai kawasan dengan produktivitas tinggi karena adanya fenomena upwelling. Proses ini memungkinkan air dingin yang kaya nutrien naik ke permukaan dan mendukung kehidupan laut.

Nutrien tersebut menjadi sumber utama bagi plankton, yang kemudian menjadi makanan bagi ikan. Rantai ini menjadi fondasi bagi sektor perikanan di wilayah tersebut.

Jika upwelling melemah akibat pemanasan laut, maka produksi ikan juga ikut menurun. Kondisi ini tentu berdampak langsung pada pendapatan nelayan dan ketahanan pangan.

Penelitian tersebut juga mengingatkan bahwa peristiwa ekstrem seperti ini “may cause significant damage to important fisheries resources, aquaculture production, and other ecosystems in southern Java.” Artinya, dampak yang ditimbulkan tidak hanya bersifat ekologis, tetapi juga ekonomi.

Menariknya, studi tersebut menemukan bahwa pemanasan laut tidak hanya disebabkan oleh faktor lokal. Ada pengaruh kuat dari interaksi fenomena iklim global seperti El Niño dan Indian Ocean Dipole (IOD).

Peneliti menyebutkan bahwa “the combination of El Niño decay and negative IOD led to optimal warm conditions for long-lasting MHWs.” Kombinasi ini menciptakan kondisi ideal bagi terbentuknya gelombang panas laut yang berkepanjangan.

Ketika El Niño mulai melemah dan IOD berada dalam fase negatif, massa air hangat bergerak menuju wilayah Indonesia. Pergerakan ini menyebabkan peningkatan suhu laut yang signifikan.

Penelitian tersebut juga menemukan adanya hubungan statistik antara ENSO dan gelombang panas laut di selatan Jawa. Korelasi maksimum antara intensitas MHW dan indeks ONI tercatat sebesar r = 0,40 dengan jeda waktu sekitar enam bulan.

Hal ini menunjukkan bahwa dampak El Niño terhadap laut Indonesia dapat diprediksi beberapa bulan sebelumnya. Informasi ini sebenarnya sangat penting bagi perencanaan kebijakan dan strategi adaptasi.

“Dengan adanya jeda waktu tersebut, pemerintah memiliki peluang untuk menyiapkan langkah mitigasi. Nelayan dan pelaku usaha perikanan dapat diberikan informasi lebih awal untuk menyesuaikan aktivitas mereka,” jelas Suhana.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa respons terhadap data ilmiah masih sering terlambat. Informasi penting sering berhenti di tingkat penelitian tanpa diterjemahkan menjadi kebijakan praktis.

Selama ini, narasi nasional tentang El Niño lebih banyak berfokus pada sektor pertanian darat. Isu seperti kekeringan, gagal panen, dan produksi beras menjadi perhatian utama.

Pendekatan tersebut memang penting, tetapi belum mencerminkan kondisi Indonesia sebagai negara maritim. Laut seharusnya menjadi bagian utama dalam analisis dampak El Niño.

Ketika suhu laut meningkat, ikan dapat berpindah ke wilayah lain yang lebih dingin. Hal ini membuat nelayan harus melaut lebih jauh dengan biaya operasional yang lebih tinggi.

Di sisi lain, sektor budidaya laut seperti rumput laut juga menjadi rentan terhadap perubahan suhu. Kondisi ini dapat menyebabkan gagal panen yang berdampak pada ekonomi masyarakat pesisir.

Fluktuasi hasil tangkapan ikan juga berdampak pada harga di pasar domestik. Konsumen akhirnya merasakan dampak tidak langsung dari fenomena iklim ini.

Perubahan iklim global memperparah situasi tersebut. Suhu laut dunia saat ini sudah lebih tinggi dibandingkan beberapa dekade lalu.

Ketika El Niño terjadi di atas kondisi laut yang sudah hangat, risiko terjadinya gelombang panas ekstrem menjadi semakin besar. Fenomena ini tidak lagi bersifat langka, melainkan semakin sering terjadi.

Bahkan kalangan peneliti di luar sudar sering sekali menekankan bahwa “an in-depth and comprehensive understanding of MHWs due to ongoing climate change becomes an urgent matter.” Pernyataan ini menunjukkan urgensi untuk memahami fenomena ini secara lebih mendalam.

“Gelombang panas laut bukan lagi ancaman di masa depan, tetapi sudah terjadi saat ini. Dampaknya pun sudah dirasakan oleh berbagai sektor, terutama perikanan dan ekosistem pesisir,” imbuh Suhana.

Karena itu, Indonesia perlu memperluas sistem peringatan dini. Tidak hanya fokus pada curah hujan dan musim tanam, tetapi juga pada suhu laut dan kondisi ekosistem.

Informasi mengenai potensi pemutihan karang, migrasi ikan, dan zona rawan gangguan perikanan harus disampaikan secara luas. Nelayan dan pelaku usaha perlu mendapatkan akses terhadap data ini.

Pemerintah daerah pesisir juga harus dilibatkan dalam sistem informasi tersebut. Dengan demikian, respons terhadap perubahan kondisi laut dapat dilakukan lebih cepat.

Tanpa langkah tersebut, data ilmiah hanya akan menjadi bahan diskusi di seminar dan jurnal. Dampaknya tidak akan terasa langsung bagi masyarakat yang paling membutuhkan.

Fenomena “Godzilla El Niño” memberikan pelajaran penting bagi Indonesia. Negara kepulauan tidak cukup hanya fokus pada daratan, tetapi juga harus memperhatikan kondisi laut.

Peristiwa 2016 di selatan Jawa menunjukkan bahwa laut Indonesia bisa mengalami pemanasan ekstrem selama berbulan-bulan. Dampaknya cukup besar untuk mengguncang ekologi dan ekonomi pesisir.

Jika Indonesia terus melihat El Niño hanya sebagai masalah daratan, maka ancaman yang lebih besar akan terabaikan. Krisis iklim maritim bisa menjadi tantangan serius di masa depan.

Karena dengan kondisi panas yang sudah terasa hari ini, sinyal bahaya sebenarnya sudah jelas. Laut Indonesia mungkin sedang menuju fase yang sama seperti satu dekade lalu.

Kesadaran dan kesiapan menjadi kunci utama untuk menghadapi fenomena ini. Tanpa itu, dampak “demam tinggi” di laut bisa jauh lebih besar daripada yang dibayangkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *