TRUMBU – Fajar bahkan belum sepenuhnya pecah ketika laut di selatan Taiwan menghadiahkan sebuah kejutan yang akan mengubah hari itu menjadi sejarah bagi seorang nelayan bernama nelayan Hung Fu-chia.
Di tengah gelombang yang tenang namun menyimpan tenaga liar di bawah permukaannya, tali pancing milik Hung Fu Chia mendadak menegang hebat, seolah ada sesuatu dari kedalaman sedang berusaha menyeret kapalnya masuk ke dalam laut.
Pria 67 tahun itu telah menghabiskan lebih dari separuh hidupnya di laut. Sejak usia 14 tahun ia sudah mengenal asinnya angin samudera, kerasnya ombak di laut. Hung Fu Chia sangat paham bahwa selain pengalaman, sikap sabar juga merupakan jurus utama yang wajib dimiliki setiap nelayan.
Hung Fu Chia mengaku, setelah puluhan tahun menantang perairan, dirinya belum pernah merasakan tarikan sebrutal pagi itu. Butuh sekitar tiga puluh menit baginya bersama awak kapal untuk menaklukkan makhluk raksasa yang terus meronta di ujung kail.
Kail baja besar yang biasa dipakai untuk memburu ikan marlin sampai melengkung diterjang kekuatan sang tangkapan, nyaris patah sebelum akhirnya tubuh perak kebiruan itu muncul ke permukaan: seekor tuna sirip biru Pasifik berbobot 190 kilogram.
“Prosesnya sangat menegangkan—butuh setengah jam untuk menarik tuna itu, dan kail yang biasanya digunakan untuk menangkap marlin sampai bengkok, hampir saja ikan itu lolos,” ujar Hung sebagaimana disadur dari porta berita Focus Taiwan.
Namun drama pagi itu baru permulaan. Begitu tiba di Pelabuhan Perikanan Donggang, Kabupaten Pingtung, tuna raksasa tersebut bukan sekadar menjadi hasil tangkapan besar, ia menjelma menjadi primadona dalam salah satu tradisi paling prestisius industri perikanan Asia: lelang tuna perdana musim tangkap.
Dalam hitungan menit, ikan itu terjual dengan harga NT$10.600 per kilogram atau sekitar Rp5,67 juta per kilogram. Nilai totalnya mencapai NT$2,014 juta, setara lebih dari Rp1,07 miliar, menjadikannya tuna termahal yang pernah dilelang dalam sejarah pasar lokal Pingtung.
Bagi sebagian orang, angka itu mungkin terdengar berlebihan, soal miliaran rupiah untuk seekor ikan. Namun bagi dunia kuliner premium Asia, tuna sirip biru bukan sekadar komoditas laut. Ia adalah aristokrat samudera, sang bangsawan bawah laut yang dagingnya diperlakukan seperti emas merah di meja sushi.
Tuna sirip biru atau bluefin tuna memang dikenal sebagai spesies paling bergengsi dalam industri makanan laut dunia. Dagingnya yang merah pekat, seratnya lembut, dan kandungan lemak tinggi pada bagian perut atau otoro menjadikannya rebutan restoran sushi elite dari Tokyo hingga New York.
Di Jepang, negeri yang memuja tuna hampir layaknya budaya, ikan ini bahkan dianggap simbol kemewahan gastronomi. Tidak mengherankan jika sekitar 80 persen konsumsi tuna sirip biru dunia berakhir di pasar Jepang, terutama untuk kebutuhan sashimi dan sushi premium.
Meski begitu, harga Rp1 miliar yang dibayarkan di Taiwan sejatinya masih jauh dari rekor dunia. Di Pasar Toyosu, Tokyo, pusat perdagangan ikan paling prestisius di dunia, seekor tuna sirip biru berbobot 243 kilogram pada Januari 2026 terjual seharga 510,3 juta yen atau setara Rp54,5 miliar.
Angka tersebut memecahkan rekor dunia sebagai tuna termahal yang pernah dilelang sejak pencatatan modern dimulai pada 1999. Harga itu bahkan lebih mahal daripada deretan rumah mewah di pusat kota Jakarta.
Sebelum rekor tersebut pecah, dunia perikanan sempat tercengang pada 2019 ketika tuna seberat 278 kilogram dibeli dengan harga 333,6 juta yen atau sekitar Rp35 miliar. Kala itu, pembelinya adalah taipan restoran sushi Jepang Kiyoshi Kimura—sosok yang dikenal publik sebagai “Raja Tuna”.
Lantas, apa yang membuat seekor ikan bisa bernilai miliaran? Jawabannya bukan semata pada rasa, tetapi juga pada simbolisme. Dalam budaya Jepang dan sebagian Asia Timur, tuna lelang perdana dianggap sebagai lambang keberuntungan, kehormatan, dan prestise bisnis.
Restoran yang berhasil membeli tuna pertama musim ini biasanya langsung menjadi sorotan media nasional. Mereka memamerkan ikan raksasa itu kepada publik, memotongnya di depan kamera, dan menggunakan status tersebut sebagai strategi pemasaran bernilai miliaran rupiah.
Semakin mahal harga yang dibayarkan, semakin besar pula efek promosi yang didapat. Dalam dunia bisnis makanan premium, membeli tuna bukan lagi soal kuliner semata, melainkan investasi citra dan panggung reputasi.
Namun di balik glamor dan nilainya yang fantastis, tuna sirip biru menyimpan ironi besar. Ia adalah salah satu ikan paling mahal di dunia, tetapi juga salah satu spesies yang paling tertekan akibat eksploitasi berlebih.
Dalam beberapa dekade terakhir, populasi tuna sirip biru global sempat merosot tajam akibat perburuan besar-besaran. Permintaan pasar internasional yang terus meningkat membuat spesies ini berada di ambang krisis sebelum akhirnya banyak negara memperketat kuota tangkap dan sistem pengawasan.
Kini, tuna sirip biru tidak hanya dipandang sebagai komoditas ekonomi, tetapi juga simbol kompleks dari hubungan manusia dengan laut: tentang kerakusan, kemewahan, dan perebutan sumber daya alam yang bernilai tinggi.
Bagi Hung Fu chia sendiri, tangkapan miliaran rupiah itu adalah hadiah dari puluhan tahun kesetiaan kepada laut. Ada keindahan yang nyaris puitis dalam kisahnya, seorang nelayan tua yang sejak remaja menantang ombak, akhirnya pulang membawa seekor “emas hidup” dari kedalaman samudera.
Menariknya, Hung mengaku ia sebenarnya tidak sedang memburu tuna pagi itu. Umpan yang dilemparnya ditujukan untuk ikan marlin, predator laut lain yang juga bernilai tinggi.
Tetapi laut, sebagaimana selalu dipercaya para nelayan, punya caranya sendiri memilih kepada siapa keberuntungan akan berlabuh. Dan pada pagi itu, ia memilih Hung.
Karena di dunia perikanan, kadang satu lemparan kail tidak hanya membawa ikan pulang ke darat. Kadang, ia membawa sejarah, kemewahan, dan satu kisah yang akan terus dikenang selama bertahun-tahun setelah ombak kembali tenang.

