TRUMBU – Di tengah krisis laut yang kian mengkhawatirkan, upaya menjaga ekosistem ternyata tidak selalu lahir dari dari ruang-ruang akademik, laboratorium yang kaku dan penuh dengan deretan data juga angka. Di Bali, pesan penyelamatan laut justru datang dari tempat yang tak biasa, ia menggema dari balik kelir dan panggung pertunjukan, tokoh-tokoh biota laut dihidupkan dalam bentuk wayang untuk berbicara kepada manusia tentang rumah mereka yang kian rusak.
Inilah Wayang Samudra, sebuah pendekatan edukasi konservasi yang memadukan seni tradisional dengan pesan lingkungan. Program tersebut menjadi bukti bahwa menjaga laut tidak harus selalu melalui bahasa ilmiah yang rumit, melainkan juga dapat hadir lewat cerita, budaya, dan pertunjukan yang menyentuh emosi publik.
Gagasan itu diperkenalkan oleh Coral Triangle Center (CTC) di Bali melalui medium pertunjukan wayang bertema kelautan. Program ini dirancang sebagai sarana edukasi publik agar isu konservasi laut dapat diterima lebih dekat oleh masyarakat lintas usia, terutama generasi muda.
Sebagaimana diketahui, Wayang kulit merupakan salah satu seni pertunjukan tradisional tertua di Indonesia yang telah hidup dan berkembang selama berabad-abad, khususnya di Pulau Jawa dan Bali. Kesenian ini menggunakan boneka pipih yang terbuat dari kulit kerbau atau kambing, dimainkan oleh seorang dalang di balik layar putih (kelir) dengan sorotan cahaya sehingga bayangannya terlihat oleh penonton.
Secara historis, wayang kulit tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi media pendidikan, penyebaran nilai moral, hingga sarana dakwah dan kritik sosial di masyarakat. Cerita yang dibawakan umumnya bersumber dari epos besar seperti Mahabharata dan Ramayana, meski dalam perkembangannya juga mengangkat kisah lokal, legenda Nusantara, hingga isu-isu kontemporer.
Karena nilai budaya dan filosofinya yang tinggi, wayang kulit telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia oleh UNESCO pada 2003. Hingga kini, wayang tetap dipandang sebagai simbol kekayaan budaya Indonesia yang merefleksikan perpaduan seni, spiritualitas, dan kearifan lokal dalam satu panggung pertunjukan.
Dalam kunjungan lapangan yang dilakukan Dewan Ikan Hias Indonesia (DIHI) ke pusat edukasi CTC pada 10 April 2026, konsep tersebut menjadi salah satu sorotan utama. Ketua tim kunjungan Dr. Suseno menyebut pendekatan budaya semacam itu menunjukkan bahwa edukasi lingkungan membutuhkan kreativitas agar tidak terasa jauh dari kehidupan masyarakat.
Berbeda dengan pertunjukan wayang tradisional yang umumnya mengangkat kisah Mahabharata atau Ramayana, Wayang Samudra menghadirkan tokoh-tokoh dari dunia bawah laut. Ikan karang, penyu, hiu, terumbu karang, hingga berbagai spesies khas Segitiga Terumbu Karang diangkat menjadi karakter utama dalam panggung pertunjukan.
Jumlah karakter yang dihadirkan pun tidak sedikit. Coral Triangle Center merancang sedikitnya 32 tokoh biota laut yang masing-masing menggambarkan peran ekologis, karakter biologis, dan ancaman terhadap habitatnya.
Di tangan para kreatornya, laut yang selama ini dipahami lewat angka dan grafik diterjemahkan menjadi narasi yang hidup. Anak-anak dan masyarakat tidak lagi hanya mendengar istilah kerusakan ekosistem, tetapi melihat langsung bagaimana seekor ikan “kehilangan rumah” atau bagaimana karang “sakit” akibat ulah manusia.
Pendekatan ini lahir dari kesadaran bahwa tantangan terbesar konservasi bukan semata pada kurangnya data, melainkan lemahnya kedekatan emosional masyarakat terhadap isu lingkungan. Ketika kerusakan laut hanya disampaikan dalam bentuk statistik, pesan itu sering terasa jauh dan abstrak.
Padahal ancaman terhadap laut Indonesia saat ini nyata dan terus meningkat. Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat Indonesia kini memiliki kawasan konservasi laut seluas sekitar 30,9 juta hektare pada 2025, atau sekitar 9,5 persen dari total wilayah laut nasional.
Pemerintah sendiri menargetkan perluasan kawasan konservasi hingga 30 persen wilayah laut nasional pada 2045. Artinya, Indonesia harus menjaga sekitar 97,5 juta hektare perairan sebagai wilayah lindung untuk memastikan keberlanjutan ekosistem laut.
Target tersebut bukan tanpa alasan. Indonesia merupakan negara dengan salah satu tingkat keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia dan menjadi pusat kawasan Segitiga Terumbu Karang atau Coral Triangle, wilayah yang dikenal sebagai jantung biodiversitas laut global.
Namun kekayaan itu terus berada dalam tekanan. Praktik penangkapan ikan destruktif, pencemaran laut, abrasi pesisir, reklamasi, hingga pemanasan global terus menggerus kualitas ekosistem laut dari tahun ke tahun.
Dalam konteks itulah, edukasi publik menjadi aspek yang sama pentingnya dengan regulasi. Sebab tanpa kesadaran masyarakat, kawasan konservasi hanya akan menjadi garis batas administratif tanpa makna nyata di lapangan.
Wayang Samudra hadir menjawab celah itu. Program tersebut memanfaatkan kekuatan budaya lokal untuk menjembatani ilmu pengetahuan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Wayang dipilih bukan tanpa alasan. Sebagai warisan budaya Nusantara yang telah hidup lebih dari seribu tahun, wayang memiliki kekuatan historis dan emosional yang kuat dalam tradisi masyarakat Indonesia.
Melalui pendekatan tersebut, pesan konservasi menjadi lebih membumi. Laut tidak lagi tampil sebagai objek ilmiah yang jauh dari keseharian, tetapi hadir sebagai bagian dari identitas budaya yang harus dijaga bersama.

Anggota Dewan Ikan Hias Indonesia (DIHI) Suhan menilai, program ini menjadi bukti bahwa menyelamatkan laut tidak selalu harus dimulai dari ruang laboratorium, tetapi bisa dari panggung wayang,
Lebih dari sekadar pertunjukan seni, Wayang Samudra kini menjadi simbol bahwa konservasi membutuhkan bahasa baru untuk menjangkau generasi masa depan. Sebab di era banjir informasi dan perhatian yang serba singkat, pendekatan kreatif menjadi kunci agar pesan lingkungan tidak tenggelam di tengah hiruk-pikuk digital.
Di sisi lain, perubahan iklim global juga turut memperburuk kondisi laut Indonesia. Kenaikan suhu permukaan laut, peningkatan keasaman air laut, dan cuaca ekstrem semakin memengaruhi keseimbangan ekosistem bawah laut. Kerusakan laut akibat perubahan iklim bahkan disebut telah meningkatkan kerugian ekonomi global secara signifikan.
Aktivitas industri pesisir juga mulai menimbulkan dampak ekologis baru. Di beberapa kawasan industri berat, penelitian terbaru menunjukkan adanya penurunan kejernihan air laut akibat ekspansi industri pesisir, yang berpotensi mengganggu fotosintesis karang dan habitat biota laut.
Pada akhirnya, krisis lingkungan laut Indonesia bukan lagi ancaman masa depan—ia sedang terjadi saat ini. Laut yang selama berabad-abad memberi makan, pekerjaan, dan kehidupan bagi jutaan orang Indonesia kini perlahan kehilangan kemampuannya menopang kehidupan akibat tekanan yang terus menumpuk.
Jika tidak ada perubahan besar dalam cara bangsa ini memperlakukan lautnya, maka Indonesia berisiko kehilangan bukan hanya kekayaan ekologisnya, tetapi juga fondasi ekonomi maritim yang selama ini dibanggakan. Sebab ketika laut rusak, yang hilang bukan sekadar pemandangan indah melainkan sumber kehidupan itu sendiri.
Menjaga laut memang bukan hanya soal patroli, aturan, atau perluasan kawasan lindung. Menjaga laut juga soal membangun kesadaran kolektif dan kadang, kesadaran itu justru lahir dari cerita sederhana yang dipentaskan di atas panggung.
Karena mungkin benar adanya, jika data mampu menjelaskan kerusakan, maka cerita mampu menggerakkan kepedulian. Dan dari balik layar Wayang Samudra, laut Indonesia kini sedang belajar berbicara kepada manusia dengan caranya sendiri.
