TRUMBU – Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia atau Food and Agriculture Organization (FAO) melalui program FAO GLOBEFISH resmi meluncurkan laporan analisis kuartalan khusus komoditas rumput laut dalam publikasi andalannya, GLOBEFISH Highlights.
Langkah ini menandai semakin pentingnya rumput laut dalam sistem pangan akuatik global, baik sebagai produk konsumsi langsung maupun bahan baku industri pangan modern.
Laporan bertajuk Quarterly Seaweed Analysis edisi perdana Februari 2026 tersebut menjadi tonggak baru dalam pemetaan industri rumput laut dunia.
Untuk pertama kalinya, FAO menghadirkan analisis khusus yang mendalami dinamika produksi, perdagangan internasional, harga, hingga arah perkembangan industri rumput laut global secara berkala.
Rumput laut kini tidak lagi dipandang sebagai komoditas pesisir tradisional semata. Di berbagai negara, komoditas ini telah berkembang menjadi bahan strategis bagi industri pangan, kesehatan, kosmetik, hingga pengolahan bahan tambahan makanan berbasis hidrokoloid seperti agar-agar dan karagenan.
Dalam laporan yang dilasnir dari website FAO tersebut, rumput laut didefinisikan sebagai kelompok makroalga laut yang diperdagangkan baik dalam bentuk produk konsumsi maupun bahan baku industri pangan.
Analisis FAO mencakup perdagangan rumput laut dan alga untuk konsumsi manusia dengan kode HS 1212.21, serta agar-agar pada kode HS 1302.31. Kedua kategori ini memainkan peran penting dalam rantai pasok pangan global, terutama sebagai bahan pengental, penstabil, dan komponen penting dalam berbagai produk makanan olahan.
Data FAO menunjukkan bahwa produksi rumput laut dunia masih sangat terkonsentrasi di kawasan Asia dan sebagian besar ditopang oleh sektor budidaya.
Pada 2022, total produksi alga global diperkirakan mencapai 37,8 juta ton. Angka tersebut menegaskan bahwa budidaya rumput laut kini menjadi salah satu subsektor akuakultur paling penting di dunia.
Di tengah pertumbuhan kebutuhan global, struktur perdagangan rumput laut internasional ternyata masih sangat bergantung pada segelintir negara produsen utama. Kondisi ini membuat pasar global sangat sensitif terhadap perubahan produksi, cuaca, kapasitas pengolahan, hingga kebijakan ekspor dari negara-negara kunci seperti Indonesia dan China.
Sepanjang Januari hingga September 2025, volume ekspor rumput laut dunia tercatat turun 4,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun menariknya, nilai ekspor justru meningkat 9,4 persen. Situasi ini menunjukkan adanya kenaikan harga rata-rata rumput laut di pasar global.

Di sisi impor, tren serupa juga terjadi. Volume impor dunia turun 4,6 persen, tetapi nilai impornya tetap naik sebesar 3,4 persen. FAO mencatat bahwa harga ekspor rata-rata meningkat dari USD 3,92 per kilogram menjadi USD 4,48 per kilogram sepanjang Januari–September 2025.
Kenaikan harga tersebut tidak terjadi secara merata. Perbedaan harga antarnegara eksportir dipengaruhi oleh variasi jenis produk, tingkat pengolahan, kualitas, serta orientasi pasar masing-masing negara. Negara yang mengekspor produk rumput laut bernilai tambah tinggi cenderung memperoleh harga jual yang jauh lebih premium dibanding eksportir bahan mentah.
Dalam lanskap perdagangan global, Indonesia masih mempertahankan posisinya sebagai eksportir rumput laut terbesar dunia. Ekspor Indonesia sebagian besar mengalir ke China sebagai pusat pengolahan dan manufaktur produk turunan rumput laut dunia.
Sementara itu, South Korea terus memperkuat posisinya sebagai eksportir terbesar kedua dunia. Keunggulan Korea Selatan ditopang oleh produk rumput laut konsumsi bernilai tinggi seperti gim, produk olahan rumput laut kering yang sangat populer di pasar internasional.
Laporan FAO juga menyoroti tingginya konsentrasi produksi global. Ketergantungan pasar terhadap beberapa negara utama membuat rantai pasok rumput laut dunia rentan terhadap gangguan produksi maupun perubahan kebijakan perdagangan. Dalam konteks ini, negara-negara produsen besar memiliki pengaruh signifikan terhadap stabilitas harga dan pasokan global.

Peluncuran Quarterly Seaweed Analysis menjadi bagian dari komitmen FAO GLOBEFISH dalam menghadirkan intelijen pasar yang lebih cepat, relevan, dan berbasis data bagi sektor perikanan dan akuakultur dunia.
FAO menilai, perkembangan industri rumput laut kini bergerak jauh lebih cepat dibanding beberapa tahun sebelumnya, terutama seiring meningkatnya tren pangan sehat, ekonomi hijau, dan kebutuhan industri berbasis bahan alami.
Ke depan, laporan kuartalan ini diharapkan menjadi rujukan penting bagi pelaku industri, eksportir, investor, pemerintah, hingga akademisi untuk memahami dinamika pasar rumput laut global secara lebih komprehensif.
Dengan posisi Asia sebagai pusat produksi dunia dan Indonesia sebagai pemain utama, arah perkembangan industri rumput laut global dalam beberapa tahun mendatang diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh strategi hilirisasi, inovasi produk, serta kemampuan negara produsen dalam meningkatkan nilai tambah komoditasnya.
