Wakil Wali Kota Tanjungbalai, Muhammad Fadly Abdina

TRUMBU – Di tepian sungai Asahan, aktivitas ekonomi berlangsung tanpa banyak perubahan selama puluhan tahun, polanya  masih tradisional, bertumpu pada kebiasaan, dan berjalan tanpa desain besar. Namun di balik arus yang tampak biasa itu, tersimpan potensi ekonomi yang jauh lebih besar dari yang selama ini dimanfaatkan.

Di banyak negara, sungai telah lama bertransformasi menjadi tulang punggung ekonomi modern. Dari jalur logistik raksasa hingga pusat wisata dan perdagangan, sungai menjadi “mesin uang” yang menggerakkan kota. Pertanyaannya, apakah Sungai Asahan di Kota Tanjungbalai bisa mengikuti jejak tersebut?

Wakil Wali Kota Tanjungbalai, Muhammad Fadly Abdina, melihat pertanyaan itu bukan sekadar wacana, melainkan arah masa depan kota. Ia menilai, selama ini sungai lebih sering diposisikan sebagai ruang hidup masyarakat, bukan sebagai aset ekonomi strategis yang dikelola secara sistematis. 

“Kita harus mulai mengubah cara pandang. Sungai bukan hanya ruang aktivitas, tetapi pusat pertumbuhan ekonomi,” ujar Fadly kepada TRUMBU.

Selama ini, ekonomi Tanjungbalai tumbuh dari interaksi langsung antara masyarakat dan sungai. Nelayan menangkap ikan, pedagang menjual hasil laut, dan distribusi barang dilakukan secara sederhana melalui jalur air. Sistem ini memang berjalan, tetapi belum terintegrasi dalam sebuah ekosistem ekonomi modern yang efisien dan berdaya saing tinggi.

Jika menengok praktik global, kesenjangan ini terlihat jelas. Sungai Yangtze di Tiongkok, misalnya, tidak sekadar menjadi jalur air, tetapi telah berkembang menjadi koridor ekonomi raksasa yang menghubungkan kawasan industri dengan pasar global. Sistem logistik di sana terintegrasi dengan pelabuhan, kawasan industri, dan pusat distribusi dalam satu jaringan yang efisien.

Pelajaran dari Yangtze sangat relevan bagi Tanjungbalai. Sungai Asahan sebenarnya memiliki fungsi dasar yang sama, yaitu sebagai penghubung antara wilayah produksi dan pasar. Namun tanpa infrastruktur dan tata kelola yang tepat, fungsi tersebut tidak berkembang optimal.

Fadly mengakui bahwa tantangan utama bukan pada potensi, melainkan pada sistem. Karena Tanjungbalai sudah punya sungai, punya sumber daya, juga punya aktivitas ekonomi. Tapi belum terhubung dalam satu sistem yang kuat. 

“Di sinilah pentingnya membangun konektivitas antara sektor perikanan, logistik, dan pelabuhan agar sungai benar-benar menjadi jalur distribusi yang efisien,” ujar Fadly.

Pengalaman Belanda memberikan perspektif berbeda. Sungai Rhine dan Pelabuhan Rotterdam menunjukkan bahwa kekuatan sungai tidak hanya terletak pada transportasi, tetapi pada integrasi lintas sektor. Sungai menjadi bagian dari sistem ekonomi yang mencakup logistik, tata kota, pengendalian banjir, hingga pariwisata.

Foto udara kota Tanjung Balai.

Dalam konteks Tanjungbalai, pendekatan ini berarti pembangunan tidak bisa dilakukan secara sektoral. Sungai Asahan harus dikelola sebagai satu kesatuan sistem yang melibatkan berbagai sektor sekaligus. Tanpa integrasi, potensi ekonomi akan terus terfragmentasi dan tidak menghasilkan nilai maksimal.

Fadly menyebut bahwa pemerintah daerah mulai mengarah ke pendekatan tersebut. Ia mengatakan, pengembangan sungai ke depan tidak hanya fokus pada perikanan, tetapi juga pariwisata dan ekonomi kreatif. “Kita ingin sungai menjadi ruang ekonomi yang hidup dan bekelanjutan, bukan hanya jalur aktivitas,” ujarnya.

Sementara itu, pengalaman Amerika Serikat melalui Sungai Mississippi menunjukkan kekuatan sungai sebagai jalur distribusi massal. Sistem inland waterways memungkinkan pengangkutan barang dalam volume besar dengan biaya jauh lebih murah dibanding transportasi darat.

Model ini sangat relevan untuk Tanjungbalai yang memiliki basis produksi perikanan cukup besar. Selama ini, distribusi hasil laut masih bergantung pada jalur darat yang relatif mahal dan terbatas. Padahal, sungai dapat menjadi solusi logistik yang lebih efisien jika dikelola dengan baik.

Namun untuk mencapai itu, diperlukan investasi infrastruktur yang tidak kecil. Kedalaman sungai harus dijaga, jalur pelayaran harus distandarisasi, dan fasilitas pelabuhan sungai harus ditingkatkan. Tanpa itu, sungai tidak akan mampu bersaing sebagai jalur logistik modern.

Lebih lanjut Fadly juga  menegaskan bahwa isu infrastruktur menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Ia menyebut perlunya kolaborasi dengan pemerintah pusat untuk mempercepat pembangunan fasilitas pendukung. 

“Kita tidak bisa berjalan sendiri. Ini membutuhkan dukungan lintas sektor dan lintas level pemerintahan,” katanya.

Berbeda dengan pendekatan industri, Thailand menawarkan model ekonomi sungai berbasis masyarakat. Sungai Chao Phraya di Bangkok berkembang menjadi ruang ekonomi yang dinamis melalui pasar terapung, wisata perahu, dan kuliner lokal.

Model ini sangat kontekstual untuk Tanjungbalai yang memiliki budaya sungai yang kuat. Aktivitas masyarakat di sekitar Sungai Asahan sebenarnya sudah mencerminkan potensi tersebut, hanya saja belum dikembangkan secara sistematis.

Fadly melihat peluang besar di sektor ini. Ia menyebut bahwa pengembangan wisata sungai dapat menjadi motor ekonomi baru yang lebih inklusif. “Kita ingin masyarakat menjadi pelaku utama, bukan hanya penonton,” ujarnya.

Pengembangan wisata berbasis sungai tidak hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi juga memperkuat identitas kota. Sungai tidak lagi sekadar ruang aktivitas, tetapi menjadi bagian dari pengalaman budaya yang memiliki nilai ekonomi.

Dari Vietnam, pelajaran lain muncul melalui Delta Mekong. Sungai di wilayah ini tidak hanya menjadi jalur distribusi, tetapi juga basis produksi yang terintegrasi dengan pasar global. Vietnam berhasil menjadikan kawasan delta sebagai pusat produksi dan ekspor komoditas perikanan dan pertanian.

Tanjungbalai memiliki potensi serupa, terutama dalam sektor perikanan. Namun untuk mencapai level tersebut, diperlukan penguatan rantai pasok dari hulu hingga hilir. Produksi harus didukung oleh pengolahan, distribusi, dan akses pasar yang terintegrasi.

Fadly menekankan pentingnya hilirisasi dalam pengembangan ekonomi sungai. Ia menyebut bahwa selama ini nilai tambah masih banyak dinikmati di luar daerah. “Kita harus mulai membangun industri pengolahan di daerah, supaya nilai ekonomi tidak lari keluar,” katanya.

Selain aspek ekonomi, pengalaman Korea Selatan melalui revitalisasi Cheonggyecheon Stream menunjukkan bahwa sungai juga dapat menjadi katalis transformasi kota. Sungai yang sebelumnya terdegradasi berhasil diubah menjadi ruang publik yang menarik, meningkatkan kualitas hidup dan nilai ekonomi kawasan.

Tanjungbalai menghadapi tantangan serupa dalam hal kualitas lingkungan sungai. Pencemaran, sedimentasi, dan risiko banjir menjadi isu yang tidak bisa diabaikan. Tanpa perbaikan lingkungan, pengembangan ekonomi berbasis sungai akan sulit berjalan.

Fadly mengakui bahwa revitalisasi sungai menjadi agenda penting ke depan. Ia menekankan bahwa pembangunan harus sejalan dengan prinsip keberlanjutan. Karena tidak bisa mengejar ekonomi tanpa menjaga lingkungan.

Dari berbagai pengalaman global tersebut, terlihat bahwa keberhasilan pengembangan ekonomi sungai ditentukan oleh tiga faktor utama: visi kebijakan, integrasi sistem, dan keterlibatan masyarakat.

Di Tanjungbalai, ketiga faktor ini masih dalam tahap awal pembangunan. Visi mulai terbentuk, integrasi mulai dirancang, dan partisipasi masyarakat mulai didorong. Namun perjalanan menuju transformasi ekonomi sungai masih panjang.

Fadly optimistis bahwa perubahan dapat terjadi jika semua pihak bergerak bersama. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat. “Ini bukan pekerjaan satu pihak. Semua harus terlibat,” katanya.

Pada akhirnya, masa depan Tanjungbalai akan sangat ditentukan oleh bagaimana kota ini memandang sungainya. Jika Sungai Asahan tetap diperlakukan sebagai ruang biasa, maka potensinya akan terus terpendam. Namun jika dikelola sebagai aset strategis, sungai dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang baru.

Air akan terus mengalir, seperti waktu yang tidak pernah berhenti. Pertanyaannya bukan lagi apakah Tanjungbalai 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *