Oleh: Wiro Wirandi*
TRUMBU – Di banyak desa pesisir Indonesia, laut bukan sekadar bentang alam. Laut adalah ruang hidup, sumber pangan, sekaligus identitas budaya yang diwariskan lintas generasi.
Selama puluhan tahun, anak-anak tumbuh dengan melihat ayah mereka melaut sebelum matahari terbit dan kembali membawa ikan untuk dijual di pasar. Namun hari ini, pemandangan itu mulai berubah.
Semakin sedikit anak muda yang ingin mengikuti jejak orang tuanya sebagai nelayan. Banyak dari mereka memilih bekerja di kota, masuk sektor jasa, atau mencari peluang di industri digital yang dianggap lebih menjanjikan.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Secara global, para peneliti mulai memberi perhatian serius terhadap apa yang disebut sebagai “aging fishers” atau menuanya pelaku sektor perikanan.
Di Indonesia saat ini dirasakan partisipasi generasi muda dalam sektor perikanan mengalami penurunan signifikan dalam satu dekade terakhir. Penurunan ini dinilai berbahaya karena sektor perikanan sangat bergantung pada regenerasi tenaga kerja dan transfer pengetahuan antargenerasi.
Masalah ini menjadi sangat penting bagi Indonesia. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki lebih dari 17 ribu pulau dan jutaan masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor kelautan dan perikanan.
Data Kementerian Kelautan dan Perikanan menunjukkan bahwa sektor ini berkontribusi besar terhadap penyediaan protein nasional dan ekonomi pesisir.
Namun, ketahanan pangan laut Indonesia di masa depan tidak hanya bergantung pada jumlah ikan di laut, melainkan juga pada apakah masih ada generasi muda yang mau bekerja di sektor tersebut?.
Semakin cuek dengan laut!
Banyak orang mengira anak muda menjauh dari perikanan karena mereka tidak mencintai laut. Padahal persoalannya jauh lebih kompleks.
Penelitian menunjukkan bahwa keputusan generasi muda untuk meninggalkan sektor perikanan lebih banyak dipengaruhi oleh faktor ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dalam banyak kasus, ini adalah keputusan yang sangat rasional.
Generasi muda melihat sektor perikanan sebagai pekerjaan dengan risiko tinggi, pendapatan tidak stabil, dan masa depan yang tidak pasti.
Salah satu penyebab utama adalah masalah pendapatan. Banyak nelayan kecil hidup dalam ketidakpastian karena hasil tangkapan sangat bergantung pada musim, cuaca, dan harga pasar.
Dalam studi di berbagai negara berkembang, generasi muda cenderung memilih sektor lain yang menawarkan gaji tetap dan jenjang karier yang lebih jelas.
Industri seperti pariwisata, minyak dan gas, logistik, hingga ekonomi digital dianggap lebih modern dan memberikan status sosial lebih tinggi dibandingkan profesi nelayan.
Studi kasus di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, menggambarkan situasi tersebut dengan cukup jelas. Sebagai salah satu sentra perikanan tangkap terbesar di Indonesia, Lamongan sebenarnya memiliki aktivitas pelabuhan ikan yang sangat hidup.
Namun, penelitian dalam Jurnal Agrikan menemukan bahwa sebagian besar pemuda nelayan di wilayah tersebut tidak tertarik melanjutkan pekerjaan orang tua mereka. Ketika sektor non-perikanan menawarkan penghasilan yang lebih stabil dibandingkan dengan melaut, pilihan generasi muda pun bergeser.
Faktor pendidikan juga berperan besar karena banyak keluarga nelayan berharap anak mereka dapat memperoleh pekerjaan yang dianggap lebih aman dan lebih bergengsi.
Fenomena serupa terlihat di Jepang. Negara yang dikenal memiliki teknologi perikanan maju ini justru menghadapi krisis regenerasi yang serius. Data Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang menunjukkan bahwa rata-rata usia nelayan Jepang kini berada di atas 55 tahun.
Jumlah nelayan aktif menurun drastis selama beberapa dekade terakhir. Banyak desa pesisir kehilangan tenaga kerja muda sehingga aktivitas ekonomi pelabuhan ikut melemah. Situasi di Jepang memperlihatkan bahwa modernisasi teknologi saja tidak cukup jika sektor perikanan gagal menarik generasi muda.
Selain persoalan ekonomi, ada faktor psikologis dan sosial yang jarang dibahas. Dalam banyak komunitas pesisir, profesi nelayan mulai dianggap kurang prestisius. Anak muda masa kini tumbuh dengan media sosial, budaya urban, dan aspirasi baru tentang kesuksesan.
Mereka ingin pekerjaan yang memberi ruang kreativitas, mobilitas sosial, dan pengakuan. Penelitian dalam Maritime Studies tentang generasi muda di Alaska menunjukkan bahwa banyak pemuda menganggap sektor perikanan tidak memberikan peluang pengembangan diri yang cukup.
Masalah ini semakin rumit karena perubahan iklim ikut mengubah wajah sektor perikanan. Cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi membuat aktivitas melaut menjadi lebih berbahaya. Gelombang tinggi, badai, dan perubahan pola musim membuat hasil tangkapan semakin sulit diprediksi.
Dalam studi mengenai keterlibatan pemuda dalam perikanan tradisional di Afrika Barat, peneliti menemukan bahwa dampak perubahan iklim menjadi salah satu faktor utama yang mendorong migrasi generasi muda keluar dari sektor perikanan.
Masalah klasik perikanan
Di Indonesia, dampak tersebut mulai terasa nyata. Banyak nelayan kecil kini harus melaut lebih jauh untuk mendapatkan hasil tangkapan yang sama dibandingkan dengan beberapa tahun lalu. Biaya operasional meningkat akibat harga bahan bakar dan perawatan kapal.
Pada saat yang sama, harga ikan di tingkat nelayan sering tidak stabil. Dalam situasi seperti itu, generasi muda melihat sektor perikanan sebagai pekerjaan dengan risiko besar tetapi imbalan rendah.
Ironisnya, ketika minat generasi muda menurun, kebutuhan protein laut justru diperkirakan meningkat. Program Makan Bergizi Gratis atau MBG yang sedang dijalankan pemerintah membutuhkan suplai protein dalam jumlah sangat besar untuk jutaan anak sekolah.
Ikan menjadi salah satu sumber protein paling realistis karena kaya nutrisi, relatif terjangkau, dan tersedia di banyak wilayah Indonesia. Artinya, masa depan program pangan nasional sangat berkaitan dengan keberlanjutan sektor perikanan.
Namun, tantangan sektor perikanan sebenarnya bukan hanya soal jumlah ikan. Indonesia menghadapi persoalan besar pada rantai pasok dan infrastruktur. Banyak wilayah pesisir memiliki produksi ikan melimpah tetapi kekurangan cold storage, fasilitas pengolahan, dan sistem distribusi yang efisien.
Akibatnya, hasil tangkapan sering terbuang atau dijual dengan harga rendah. Bagi generasi muda yang akrab dengan teknologi dan efisiensi, sektor ini terlihat tertinggal dibanding industri lain yang lebih modern.
Di sisi lain, ada perubahan menarik dalam cara anak muda memandang laut. Banyak generasi muda sebenarnya masih tertarik pada isu kelautan, tetapi bukan dalam bentuk profesi nelayan tradisional.
Mereka lebih tertarik pada bidang seperti budidaya modern, teknologi akuakultur, pemasaran digital seafood, konservasi laut, hingga ekowisata berbasis masyarakat. Ini menunjukkan bahwa laut masih dianggap relevan, hanya saja bentuk industrinya sedang berubah.
Sebuah hasil penelitian menyoroti pentingnya mentoring dan model koperasi dalam menarik generasi muda kembali ke sektor perikanan. Program pelatihan berbasis praktik, pertukaran pengetahuan, dan dukungan komunitas terbukti mampu meningkatkan minat pemuda terhadap sektor kelautan.
Pendekatan seperti ini penting karena generasi muda tidak hanya membutuhkan pekerjaan, tetapi juga ekosistem yang mendukung pertumbuhan karier mereka.
Persoalan gender juga menjadi isu penting yang sering terabaikan. Banyak perempuan muda di komunitas pesisir sebenarnya terlibat aktif dalam rantai nilai perikanan, terutama pada sektor pascapanen dan pengolahan.
Namun, mereka sering tidak mendapatkan akses yang setara terhadap pelatihan, modal, maupun pengambilan keputusan. Literatur internasional menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan dalam sistem pangan laut dapat meningkatkan ketahanan ekonomi komunitas pesisir secara signifikan.
Butuh pendekatan baru
Dalam konteks Indonesia, regenerasi sektor perikanan membutuhkan pendekatan yang lebih luas dibandingkan sekadar kampanye “ayo jadi nelayan”.
Generasi muda saat ini (seperti genZ) perlu melihat bahwa laut dapat menjadi ruang inovasi dan masa depan ekonomi baru. Modernisasi budidaya, digitalisasi pemasaran hasil laut, traceability seafood, ekonomi karbon biru, hingga pengembangan industri pengolahan pangan laut bisa menjadi pintu masuk baru bagi keterlibatan anak muda.
Salah satu contoh menarik datang dari Sulawesi Tenggara. Penelitian mengenai model pemberdayaan pemuda berbasis usaha perikanan air tawar menunjukkan bahwa ketika generasi muda diberikan akses terhadap pelatihan, teknologi, dan pasar, minat mereka terhadap sektor perikanan meningkat secara signifikan.
Ini membuktikan bahwa persoalan utama bukanlah kurangnya minat terhadap laut, melainkan kurangnya peluang ekonomi yang menarik. Transformasi sektor perikanan juga harus mengikuti perubahan zaman.
Anak muda saat ini tumbuh di era internet dan ekonomi digital. Mereka terbiasa dengan inovasi cepat, konektivitas, dan fleksibilitas kerja. Karena itu, sektor perikanan masa depan tidak cukup hanya mengandalkan model tradisional.
Industri ini perlu menghadirkan ruang baru seperti startup seafood, data perikanan digital, pemantauan laut berbasis teknologi, hingga industri pengolahan bernilai tambah tinggi.
Jika Indonesia gagal melakukan regenerasi sektor perikanan, dampaknya akan sangat besar. Tidak hanya produksi ikan yang terancam menurun, tetapi juga stabilitas ekonomi pesisir dan ketahanan pangan nasional.
Dalam jangka panjang, Indonesia bisa menghadapi situasi di mana kebutuhan protein laut meningkat, tetapi jumlah tenaga kerja produktif di sektor perikanan terus menyusut.
Sebaliknya, jika transformasi berhasil dilakukan, laut dapat menjadi salah satu sektor paling strategis bagi masa depan Indonesia. Dunia saat ini sedang bergerak menuju blue economy, ekonomi rendah karbon, dan sistem pangan berkelanjutan.
Dalam konteks tersebut, sektor kelautan sebenarnya memiliki peluang besar untuk menjadi ruang kerja baru bagi generasi muda yang kreatif, inovatif, dan peduli terhadap lingkungan.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang anak muda yang menjauhi sektor perikanan bukan sekadar soal profesi. Ini adalah pertanyaan tentang masa depan hubungan manusia dengan laut. Apakah laut akan tetap menjadi sumber kehidupan dan harapan ekonomi, atau perlahan ditinggalkan karena dianggap tidak lagi mampu memberikan masa depan.
Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan bukan hanya masa depan komunitas pesisir, tetapi juga masa depan ketahanan pangan Indonesia.
*Penulis adalah Ketua Bidang Kerjasama DPP Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (ISPIKANI)
