Collagel minuman kolagen berbasis ikan hasil inovasi IPB University.

TRUMBU – Di balik aroma khas pasar ikan yang sering dianggap menyengat, tersimpan potensi ekonomi yang selama ini luput dari perhatian. Tumpukan kulit, tulang, sisik, hingga gelembung renang yang biasanya berakhir sebagai limbah, kini mulai dilihat dengan cara berbeda, bukan sebagai sisa, melainkan sebagai sumber daya bernilai tinggi.

Di tangan para peneliti, limbah itu berubah wujud menjadi produk kesehatan modern. Salah satunya adalah minuman kolagen berbasis ikan yang dikembangkan oleh Guru Besar IPB University, Prof. Mala Nurilmala, sebuah inovasi yang bukan hanya menjawab tantangan ekonomi, tetapi juga menyentuh isu halal dan keberlanjutan lingkungan.

Selama bertahun-tahun, industri perikanan Indonesia menghasilkan limbah dalam jumlah besar. Dari total produksi perikanan nasional yang mencapai lebih dari 24 juta ton per tahun, gabungan perikanan tangkap dan budidaya—diperkirakan sekitar 30 hingga 40 persen di antaranya berakhir sebagai limbah.

Limbah ini mencakup bagian-bagian ikan yang tidak dikonsumsi, seperti kulit, tulang, kepala, dan sisik. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut dapat menjadi sumber pencemaran lingkungan, terutama di kawasan pesisir dan sentra pengolahan ikan.

Namun, di balik persoalan itu, tersimpan potensi besar. Limbah perikanan sebenarnya kaya akan protein, terutama kolagen, protein struktural yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

“Kolagen merupakan protein bernilai tinggi yang banyak digunakan dalam industri pangan, kosmetik, kesehatan, dan nutraceutical,” ujar Prof Mala Nurilmala dalam siaran pers IPB University.

Untuk memahami pentingnya inovasi ini, kita perlu memahami terlebih dahulu apa itu kolagen. Kolagen adalah protein utama yang menyusun jaringan ikat dalam tubuh manusia dan hewan, termasuk kulit, tulang, tendon, dan ligamen.

Dalam tubuh manusia, kolagen menyumbang sekitar 25 hingga 30 persen dari total protein. Ia berfungsi menjaga elastisitas kulit, kekuatan tulang, serta kesehatan sendi dan jaringan tubuh lainnya.

Seiring bertambahnya usia, produksi kolagen dalam tubuh secara alami menurun. Proses ini biasanya mulai terjadi sejak usia 25 tahun, ditandai dengan munculnya kerutan, berkurangnya elastisitas kulit, serta menurunnya kesehatan sendi.

Guru Besar IPB University, Prof. Mala Nurilmala

Inilah yang membuat kolagen menjadi salah satu bahan yang sangat dicari dalam industri kesehatan dan kecantikan. Produk berbasis kolagen, mulai dari suplemen hingga minuman, kini menjadi tren global dengan pasar bernilai miliaran dolar.

Pasar kolagen global diperkirakan mencapai lebih dari USD 9 miliar atau setara setara sekitar Rp153 triliun (kurs Rp 17.000) dan terus tumbuh setiap tahun. Permintaan datang dari berbagai sektor, termasuk industri makanan dan minuman, farmasi, hingga kosmetik.

Namun, sebagian besar kolagen yang beredar di pasar global masih berasal dari bahan baku hewani seperti sapi dan babi. Hal ini menimbulkan tantangan tersendiri, terutama bagi negara dengan mayoritas penduduk Muslim seperti Indonesia.

Isu kehalalan menjadi perhatian utama. Kolagen berbasis babi jelas tidak dapat diterima, sementara kolagen dari sapi juga menghadapi tantangan terkait proses penyembelihan dan rantai pasok yang harus sesuai standar halal.

Dalam konteks inilah kolagen berbasis ikan menjadi solusi strategis. Selain lebih mudah dipastikan kehalalannya, kolagen ikan juga memiliki keunggulan dari sisi bioavailabilitas—lebih mudah diserap oleh tubuh dibandingkan kolagen dari mamalia.

Prof. Mala Nurilmala melihat peluang ini sebagai titik masuk untuk mengembangkan inovasi berbasis sumber daya lokal. Melalui riset yang dilakukan, ia berhasil mengolah limbah perikanan menjadi produk kolagen yang tidak hanya aman, tetapi juga memiliki nilai tambah tinggi.

Produk awal yang dikembangkan adalah Collagel, yang dirilis pada Februari 2025. Produk ini telah mengantongi izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta sertifikat halal dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).

Keberhasilan tersebut menjadi pijakan untuk pengembangan lebih lanjut. IPB kemudian meluncurkan varian baru berupa minuman kolagen bernama Collagen Z, yang dirancang untuk menjangkau pasar yang lebih luas, khususnya generasi muda.

Produk ini hadir dalam berbagai varian rasa seperti kopi, matcha, mangga, dan berry. Pendekatan ini menunjukkan bahwa inovasi tidak hanya berhenti pada aspek teknologi, tetapi juga memperhatikan preferensi pasar.

Pengembangan Collagen Z tidak dilakukan sendiri. IPB menggandeng berbagai pihak, termasuk PT Telkom Indonesia melalui Divisi Social Responsibility Center, Yayasan SayHI, serta Halal Science Center (HSC).

Kolaborasi ini menjadi contoh nyata bagaimana riset akademik dapat terhubung dengan dunia industri dan masyarakat.

Namun, yang membuat program ini menarik bukan hanya produknya, melainkan model ekonomi yang dibangunnya. Inisiatif ini mengusung konsep ekonomi sirkular—memanfaatkan limbah menjadi produk bernilai tinggi.

Dalam model ini, limbah tidak lagi dianggap sebagai akhir dari proses produksi, melainkan sebagai awal dari siklus ekonomi baru.

Pendekatan ini sangat relevan dengan tantangan lingkungan yang dihadapi Indonesia. Limbah perikanan yang tidak dikelola dengan baik dapat mencemari air dan mengganggu ekosistem.

Dengan mengolah limbah menjadi produk seperti kolagen, dampak lingkungan dapat dikurangi sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru.

Lebih jauh, program ini juga menyasar pemberdayaan masyarakat. Melalui pelatihan dan workshop, masyarakat—terutama pemuda dan ibu rumah tangga—dilibatkan dalam proses produksi dan pemasaran.

Mereka dibekali keterampilan mulai dari manajemen usaha, pemasaran digital, hingga pencatatan keuangan berbasis teknologi.

Tidak hanya itu, peserta juga mendapatkan dukungan berupa sarana usaha seperti booth penjualan dan kendaraan distribusi. Hal ini menunjukkan bahwa program ini dirancang secara komprehensif, dari hulu hingga hilir. Dengan pendekatan ini, inovasi tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar hadir di tengah masyarakat.

Dari sisi ekonomi, potensi produk kolagen berbasis ikan sangat besar. Dengan bahan baku yang melimpah, Indonesia memiliki peluang untuk menjadi pemain utama dalam industri kolagen global.

Namun, seperti halnya industri rumput laut, tantangan utama terletak pada hilirisasi. Selama ini, banyak komoditas perikanan Indonesia diekspor dalam bentuk mentah dengan nilai tambah rendah.

Inovasi seperti Collagen Z menunjukkan arah yang berbeda. Produk ini tidak hanya memanfaatkan bahan baku lokal, tetapi juga mengolahnya menjadi produk siap konsumsi dengan nilai jual tinggi. Ini adalah langkah penting menuju transformasi industri berbasis sumber daya alam.

Dalam konteks industri halal, potensi ini menjadi semakin besar. Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia memiliki pasar domestik yang sangat besar.

Selain itu, permintaan global terhadap produk halal juga terus meningkat, membuka peluang ekspor yang signifikan.

Namun, untuk memanfaatkan peluang ini, diperlukan dukungan kebijakan yang kuat. Pemerintah perlu mendorong pengembangan industri hilir, termasuk melalui insentif investasi dan penguatan riset.

Selain itu, standardisasi dan sertifikasi juga menjadi kunci untuk memastikan produk dapat bersaing di pasar global.

Di sisi lain, tantangan juga datang dari aspek teknologi. Pengolahan kolagen memerlukan teknologi yang tidak sederhana, termasuk proses ekstraksi dan pemurnian yang harus memenuhi standar kualitas tinggi. Karena itu, kolaborasi antara akademisi, industri, dan pemerintah menjadi sangat penting.

Apa yang dilakukan oleh Prof. Mala Nurilmala dan timnya menunjukkan bahwa kolaborasi semacam ini bukan hal yang mustahil. Dengan pendekatan yang tepat, riset dapat menjadi motor penggerak ekonomi.

Lebih dari itu, inovasi ini juga menunjukkan bahwa solusi terhadap masalah lingkungan dapat sekaligus menjadi peluang ekonomi.

Pada akhirnya, Collagen Z bukan sekadar produk minuman. Ia adalah simbol dari perubahan cara pandang—bahwa limbah bukanlah akhir, melainkan awal dari peluang baru.

Di tengah tantangan global seperti perubahan iklim dan krisis pangan, pendekatan semacam ini menjadi semakin relevan.

Indonesia memiliki semua modal yang dibutuhkan: sumber daya alam melimpah, pasar besar, dan kapasitas riset yang terus berkembang. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk berinovasi dan mengubah paradigma.

Jika langkah ini terus diperkuat, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi pusat industri kolagen halal dunia. Dan semua itu, mungkin, berawal dari sesuatu yang selama ini kita anggap remeh—limbah ikan di sudut pasar yang kini menjelma menjadi produk masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *